Posted by: abuhanin | January 6, 2008

Label Khowarij Bagi Penentang Pemerintah

Ada sekelompok kecil dari kaum muslimin yang selalu memusuhi saudara muslim lainya dengan menuduh khowarij pada kelompok Islam lain. 

Lagi-lagi mereka yang selalu menuduh seperti itu adalah kelompok yang mengaku Salafi. Tuduhan khowarij itu dilontarkan kepada kelompok-kelompok Islam yang menginginkan tegaknya Syari’at Islam di muka bumi ini. Karena biasanya kelompok-kelompok yang menginginkan tegaknya syari’at Islam, sangat membenci pemerintahan yang sekuler atau yang tidak berhukum dengan hukum Islam.

 

Mereka(baca:Salafi) beralasan bahwa membenci pemerintah dan tidak taat pada pemerintah itu sama dengan khowarij, seperti yang terjadi di jaman Ali bin Abi Thalib. Padahal jelas beda sekali antara pemerintahan sekarang dengan pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

 

Kalau mereka memaksakan tuduhan seperti itu, berarti mereka menyamakan pemerintahan Ali bin Abi thalib dengan pemerintahan sekuler atau pemerintah yang menjalankan undang-undang bikinan manusia. Padahal kita tahu, bahwa khowarij menentang Ali itu karena proses ‘tahkim’ atau proses tawar menawar dengan Muawiyah yang tidak Islami(menurut khowarij). Bukan menentang sistem pemerintahan yang di pakai oleh Ali saat itu.

 

Kalau sikap tidak setuju pada pemerintah yang tidak islami itu termasuk fikrah khowarij, kenapa mereka(salafi) tidak melabelkan istilah khowarij pada Syaikhul islam Ibnu Taimiyah atau Syaikh Abdul Wahhab.

 

Ibnu Taimiyah menentang pemerintahan Holako Khan, karena dia memakai hukum elyasek dalam pemerintahannya. Sehingga beliau meyakinkan ummat Islam untuk memerangi Holako Khan yang sudah muslim waktu itu.

 

Sedangkan Syaikh Abdul Wahhab yang terkenal dengan gerakan wahabinya juga pernah menentang dan bughot terhadap khilafah Turki Utsmani, karena pemerintahan Turki Utsmani dianggap tidak Islami.

 

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini kami nukilkan sekilas tentang asal muasal gerakan Wahabi dari koleksi buku Indraganie.

 Gerakan Wahhabi tidak dapat dilepaskan dari seorang ulama asal Najad –tepatnya lahir di ‘Uyaynah- bernama Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Sebelum minyak ditemukan pada abad ke-20, kehidupan di Najad memiliki ciri khas gurun atau nomad. Kota-kotanya sedikit, wujudnya tak lebih dari pondok dari lumpur. Sebagian besar penduduknya hidup berpindah-pindah mencari lahan subur, dengan demikian mereka tidak punya atau tidak (mau) tunduk kepada kekuasaan yang terpusat. Sepanjang sejarahnya, peradaban canggih di Arabia sempat muncul di selatan, utara dan timur. Najad boleh dibilang terpencil. Semasa hidupnya wilayah utara, selatan, barat dan timur Arabia dikuasai oleh Kesultanan Turki ‘Utsmaniyyah (1299-1924). Selama berabad-abad praktis Najad bebas dari kekuasaan asing karena jauh dari pesisir dan didominasi gurun.Dia berasal dari keluarga yang turun temurun menonjol dalam hal ilmu agama, tak heran jika dia tertarik menjadi ahlinya. Sejak remaja dia berda’wah di kampung halamannya, dan langsung menerima resiko dimusuhi.Setelah berfikir sematang-matangnya dia pindah ke Dar’iyyah atau Dir’iyyah dan disambut dengan simpatik oleh Muhammad bin Sa’ud, seorang raja kecil yang kelak menjadi leluhur para raja Arab Saudi. Leluhur Bin Sa’ud menetap di Dar’iyyah sejak sekitar abad ke-16.Boleh dibilang tidak ada yang baru dari da’wahnya. Dia hanya ingin kaum Muslim kembali memperlakukan agamanya berdasar sumber asli yaitu kitab dan sunnah. Ijtihad dilaksanakan jika tidak ditemukan dasarnya dari dua perkara itu –dan itu memang dibolehkan dalam agama. Tahap dalam memahami agama adalah tafsirkan ayat dengan ayat, tafsirkan ayat dengan hadits, dan pilihan terakhir adalah tafsirkan kasus dengan ijtihad.Sebelum bertemu dengan Bin Sa’ud, dia merantau menuntut ilmu antara lain ke Madinah, Bashrah, Baghdad dan Qum bahkan konon ke Perancis. Hasil perantauan tersebut meyakinkan dia bahwa kebekuan dan penyimpangan kaum Muslim telah merata, bukan hanya di kampung halaman. Walau masyarakat kampung halaman adalah bangsa Arab –dan tentu berbahasa Arab– ternyata bukan jaminan mampu memahami agama dengan tepat. Pertemuan atau duet 2M (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dengan Muhammad bin Sa’ud) tersebut diperkuat oleh sumpah setia menurut Islam yang lazim disebut bai’at, inilah awal Revolusi Wahhabi (1744-1818). Boleh dibilang revolusi ini adalah awal kebangkitan Muslim. Bin Sa’ud dipilih sebagai raja dan Bin ‘Abdul Wahhab sebagai penasihatnya.Pada periode tersebut boleh dinilai bertepatan dengan  gerakan di dunia Barat yang lazim disebut Aufklarung, gerakan ini boleh dibilang lanjutan dari Renaissance. Gerakan tersebut membuahkan 3 revolusi yang menentukan dunia yaitu Revolusi Industri (1769), Revolusi Amerika (1775-1783), Revolusi Perancis (termasuk Perang Napoleon) pada 1789-1815. Dampaknya luar biasa, hasil dari Aufklarung terasa pada abad ke-19. Untuk pertama kali Barat mengungguli Timur hingga kini, terutama dalam hal teknologi. Dan hal itu berdampak pada bidang sosio-religi, kemajuan teknologi Barat mempermudah usaha mereka menjajah: penjajahan semakin merajalela! Dengan penjajahan, Barat berpeluang memasukkan nilai-nilainya kepada Timur –yang disengaja atau tidak, cenderung merusak tatanan walau tentu harus diakui ada segi baiknya. Apa yang disebut kemajuan peradaban Barat yang dibawa ke Timur sesungguhnya adalah hasil pengembangan dari peradaban Timur semisal dari Mesir, Mesopotamia, Arabia, India dan Cina.Ibnu ‘Abdul Wahhab dan Ibnu Sa’ud mungkin tidak tahu menahu tentang gejolak internasional tersebut di atas, wilayah Najad sedemikian terpencil akibat gurun yang luas. Hal tersebut juga agaknya yang menyebabkan mereka tidak atau belum berniat berda’wah ke arah non Muslim. Selain itu, Najad juga bukan wilayah yang berbatasan dengan wilayah non Muslim. Mereka menyaksikan bahwa masyarakat kampung halaman sendiri butuh da’wah, maka strategi yang tepat dipakai –minimal untuk beberapa lama– adalah mengislamkan orang yang sudah Islam. Kaum Muslim kembali dituntun atau dituntut, untuk kembali mengenal agamanya sendiri sesuai dengan kitab dan sunnah. Namun kelak seiring perjalanan waktu gerakan Wahhabi berbenturan dengan imperialisme Barat yang bangkit seiring dengan kebangkitan intelektualnya, hingga saat ini.Gerakan Wahhabi menerapkan dua metode da’wah yaitu da’wah bil lisaan (da’wah dengan bicara) dan da’wah bil haal (da’wah dengan tindakan). Selain khutbah di masjid juga mulai merusak berbagai lokasi yang dinilai keramat oleh umat. Di Najad ada beberapa kubur, gua dan pohon yang dikeramatkan, baginya perilaku tersebut tiada beda dengan menciptakan atau menghadirkan kembali suasana pra Islam. Jika terus dibiarkan, bukan mustahil Islam tidak disebut-sebut lagi, apalagi diamalkan.Larangan meminta-minta di situs keramat, dan perusakan berbagai situs keramat, tak pelak lagi membangkitkan kemarahan masyarakat. Namun duet 2M tidak peduli. Mereka bertekad mewujudkan niatnya dengan manis, bahkan dengan pahit jika perlu. Untuk itu pasukan perlu dibentuk dan didampingi mubaligh atau da’i. Selain membimbing para prajurit, para guru agama juga memberi tuntunan kepada masyarakat di suatu tempat yang telah ditaklukan oleh tentara.Demikianlah, ketika Bin Sa’ud wafat pada 1765 sebagian besar Najad telah ditaklukan kaum Wahhabi.Putranya yaitu ‘Abdul ‘Aziz dipilih menggantikan Bin Sa’ud. Setelah Najad ditaklukan, Provinsi al-Hasa –terletak di pantai Teluk Persia- menjadi target berikutnya. Mayoritas pantai timur Arabia adalah Muslim Syi’ah. Syi’ah muncul pada abad ke-7 saat terjadi perang saudara kaum Muslim antara ‘Ali bin Abu Thalib dengan Muawiyyah bin Abu Sufyan karena perebutan kekuasaan sebagai khalifah, yaitu sebutan bagi pengganti “fungsi” Nabi Muhammad sebagai kepala negara. Syi’ah berpendapat bahwa hak kekhalifahan adalah berasal dari keturunan Muhammad via putrinya yaitu Fathimah az- Zahra dengan ‘Ali. Dua kelompok Muslim lain yaitu Suni dan Khawarij berpendapat bahwa khalifah dipilih berdasar pemilu. Persoalan politik tersebut akhirnya merambah ke bidang ritual dan akidah.Kaum Syi’ah berfaham mengeramatkan tokoh tertentu dan kuburnya, tempat-tempat yang dinilai suci oleh Syi’ah banyak terdapat di ‘Iraq dan Iran. Dua negeri tersebut memang mayoritas Syi’ah. Di Indonesia, pengaruh Syi’ah nampak pada perayaan Tabut di Sumatera Barat dan Bengkulu. Perayaan tersebut untuk mengenang pembantaian cucu nabi yaitu Hussayn bin ‘Ali bin Abu Thalib oleh pasukan Kerajaan Ummayyah di Karbala, kini masuk wilayah ‘Iraq.Setelah aktivis Wahhabi menaklukan Hasa, pandangannya tertuju pada ‘Iraq. Hasrat menaklukan negeri tersebut berakibat mereka dikenal terutama di dunia Muslim, dalam arti menghebohkan. Ketika itu ‘Iraq masuk wilayah Kerajaan Turki ‘Utsmaniy, negara terkemuka di dunia Muslim. Walau sejak abad ke-17 negara tersebut melemah, namun tetap dipandang dengan hormat oleh kaum Muslim, mengingat tempat-tempat suci utama Muslim yaitu di Hijaz –lazim disebut Haramayn- dan Palestina juga masuk wilayah ‘Utsmaniy. Lagi pula Turki termasuk negara Muslim besar selain Persia, Moghul-India dan Marokko.Pasukan Wahhabi menyerbu ‘Iraq pada tahun 1801, kota-kota suci semisal Bashrah, Kufah dan Karbala direbut. Di Karbala, terdapat kubur Hussayn bin ‘Ali bin Abu Thalib. Pasukan Wahhabi menjarah, merusak dan membunuh di kota tersebut. Sekitar dua tahun kemudian mereka menyerbu Hijaz – tempat suci sebagaimana tersebut di atas. Beberapa tempat yang dikeramatkan ada yang dirusak, selebihnya hanya dijaga dari upaya perilaku syirik dan bid’ah semisal makam nabi di Madinah. Adapun rumah tempat lahir Muhammad kini beralih fungsi menjadi pustaka.Serbuan ke jantung dunia Muslim menyentakkan dunia, yang paling cemas adalah Turki. Tidak diduga bahwa gerakan yang pada awalnya dinilai hanya sebagai konflik ala nomad -yang lazim terjadi di wilayah steppa atau gurun terkait masalah perebutan lahan subur– ternyata menjadi semacam kebangkitan dengan ideologi yang jelas. Walaupun sama-sama berfaham Suni, Turki tidak menerima penguasaan Haramayn di pegang Wahhabi, atau siapa pun selain dirinya. Mau ditaruh di mana muka di hadapan dunia –terutama Muslim– jika kekuasaan di Haramayn terlepas? Lagipula, kaum Wahhabi menilai bahwa pemerintah Turki kurang Islami sehingga tidak layak menjadi pemimpin dunia Muslim. Kaum Syi’ah sama cemasnya jika Haramayn dikuasai Wahhabi, mereka hampir pasti dipersulit atau dilarang untuk datang padahal haji termasuk rukun Islam dan hanya dapat dilaksanakan di Haramayn. Penyerbuan ke ‘Iraq yang dinilai begitu kejam belum lama berselang sebelum ke Hijaz masih segar dalam ingatan. Turki ingin bertindak namun terhadang masalah. Pembusukan di dalam dengan begitu banyak perselingkuhan –sebagaimana dikritik kaum Wahhabi- dalam mengelola negara dan penyerbuan balik oleh bangsa-bangsa Eropa berakibat sulit menghimpun pasukan. Karena itu tugas menumpas gerakan Wahhabi diserahkan kepada Mesir, wilayah setengah merdeka dalam naungan Turki. Penguasanya bernama Muhammad ‘Ali Basya atau Pasya.Muhammad ‘Ali melantik putranya yaitu Tursun atau Tusan sebagai panglima operasi penumpasan. Dia bergerak pada tahun 1816.Ibnu ‘Abdul Wahhab wafat pada 1792 dan ‘Abdul ‘Aziz menyusul tak lama setelah penaklukan Haramayn. ‘Abdul ‘Aziz diganti oleh Sa’ud, yang wafat pada tahun 1814. Putra Sa’ud yaitu ‘Abdullah terpilih menjadi pemimpin gerakan, dan dialah yang menghadapi serbuan pasukan Mesir.Pergantian secara turun temurun dari Muhammad bin Sa’ud –bahkan hingga kini– menunjukkan bahwa gerakan Wahhabi sekian lama belum menyentuh pembenahan di bidang politik. Sistem yang jelas-jelas monarki terkesan sejauh ini dibiarkan, padahal Islam memiliki konsep memilih pemimpin melalui pemilu, artinya Islam lebih berfaham republik dibandingkan monarki. Konsep monarki cenderung membatasi peran politik hanya kepada kelompok tertentu –katakanlah keluarga tertentu– yang jelas memperkecil peluang umat kebanyakan untuk turut serta. Kini dapat kita saksikan bahwa para pemegang jabatan yang terkait dengan negara atau politik di Kerajaan Arab Saudi hampir semua dari Keluarga Sa’ud. Baru beberapa tahun terakhir ini terdapat gejolak di dalam negeri tersebut yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok berfaham Wahhabi pula yang mengkritisi sistem monarki. Yang sejauh ini menonjol tentu saja Usamah bin Ladin, dia bertekad menghapus sistem tersebut, bila perlu dengan kekerasan. Usamah agaknya cenderung mengutamakan pembebasan kaum Muslim yang cenderung dizhalimi oleh non Muslim berikut antek-anteknya dalam kaum Muslim, sehingga ada perbedaan dengan skala prioritas dengan Ibnu ‘Abdul Wahhab, yang mengutamakan pembenahan dalam ritual dan akidah sekaligus kurang membenahi ranah politik. Kembali ke usaha penumpasan, tujuan pokok adalah merebut Haramayn, kota-kota Makkah dan Madinah direbut nyaris bersamaan. Pasukan Wahhabi mundur dari Hijaz dan Muhammad ‘Ali bertekad mengejar ke pusatnya. Putranya yang lain yaitu Ibrahim dipilih untuk bergerak ke NajadPasukan Mesir butuh waktu sekitar dua tahun untuk merebut Dar’iyyah. Walau kalah canggih, pasukan Wahhabi mampu merepotkan pasukan Mesir. Begitu pertahanan Wahhabi ditembus, pasukan Mesir meratakan Dar’iyyah, merusak lahan pertanian di sekitarnya, mengusir keluarga Sa’ud dan menangkap ‘Abdullah. ‘Abdullah dibawa ke Istambul dan dihukum mati. Berakhirlah revolusi pertama Wahhabi.Penumpasan di bidang militer dan politik digerakkan bersamaan dengan penumpasan di bidang ritual dan teologi. Banyak ulama dikerahkan untuk memfitnah Wahhabi. Ibnu ‘Abdul Wahhab difitnah sebagai keturunan Mussaylamah al-Kadzdzab, seorang nabi palsu yang tampil pasca wafatnya nabi Muhammad SAW. Fitnah tersebut cukup ampuh karena mereka berdua sama-sama asal Najad. Anti keramat kubur difitnah sebagai anti ziarah kubur, anti wasilah difitnah sebagai anti ulama.Mengingat Turki menguasai jantung dunia Muslim, fitnah tersebut sempat laris di dunia Muslim, termasuk di Indonesia. Hal tersebut dimungkinkan karena kaum Muslim melaksanakan ritual haji atau belajar agama di Haramayn. Namun gerakan Wahhabi tak dapat ditumpas-tuntas, secara berangsur gerakan tersebut melangkah ke luar Arabia. Di Arabia sendiri, gerakan tersebut muncul kembali pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdul Rahman al-Sa’ud mengobarkan revolusi Wahhabi mirip dengan Muhammad bin Sa’ud, dia persatukan suku-suku –sering dengan kekerasan– sekaligus perang melawan Turki. Ketika itu rasa tak puas terhadap Turki nyaris merata di Arabia. Tokoh lain yaitu Syarif Hussayn bahkan merasa perlu bersekutu dengan Inggris untuk melawan Turki ketika Perang Dunia ke-1 (1914-198), dia lebih tepat dinilai dimanfaatkan. Inggris menjanjikan dia sebagai raja bukan hanya di Arabia namun juga mencakup Syam –kini mencakup Suriah, Palestina, Libanon dan Yordania– serta Mesopotamia, yang kini mencakup ‘Iraq dan Kuwait. Dengan senjata dan sejumlah perwira Inggris dia sukses mengusir pasukan Turki. Ketika usai perang, Inggris membiarkan dia perang sendirian dengan ‘Abdul ‘Aziz. Inggris mengkhianatinya dengan cara membagi wilayah dengan Perancis dan memasukkan kaum zionis ke Palestina. ‘Iraq, Kuwait, Yordania dan Palestina menjadi mandat Inggris; Libanon dan Suriah menjadi mandat Perancis. Mandat adalah istilah halus untuk jajah atau caplok. Akibatnya, ‘Abdul ‘Aziz sukses merebut Haramayn dan Syarif Hussayn lari Yordania dan berkuasa turun temurun di situ dengan nama Dinasti Hasyimiyyah. Pada tanggal 23 September 1932 ‘Abdul ‘Aziz mengumumkan pembentukan Kerajaan Arab Saudi dengan ibu kota Riyadh, masuk Provinsi Najad dan menyatakan Wahhabi sebagai ‘faham’ resmi negara. Tercapailah tujuan duet 2M pada abad ke-18 tersebut setelah perjuangan yang berdarah-darah.

Dari kisah di atas, menjadi jelaslah bahwa ternyata Syaikh Abdul Wahab juga pernah menentang dan bahkan bughot terhadap kekhilafahan Turki Utsmani, karena khilafah Turki Utsmani semakin tidak Islami pada waktu itu.


Leave a response

You must be logged in to post a comment.

Categories