<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abuhanin's Weblog</title>
	<atom:link href="http://abuhanin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuhanin.wordpress.com</link>
	<description>Membumikan Syari'at Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Apr 2009 10:47:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abuhanin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/7d2426dee707c1a62e2a0590fd288ef7?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abuhanin's Weblog</title>
		<link>http://abuhanin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abuhanin.wordpress.com/osd.xml" title="Abuhanin&#8217;s Weblog" />
		<item>
		<title>Amazon</title>
		<link>http://abuhanin.wordpress.com/2009/04/23/amazon/</link>
		<comments>http://abuhanin.wordpress.com/2009/04/23/amazon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 10:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuhanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhanin.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Posted in Uncategorized       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuhanin.wordpress.com&blog=1500046&post=42&subd=abuhanin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuhanin.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuhanin.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuhanin.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuhanin.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuhanin.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuhanin.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuhanin.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuhanin.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuhanin.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuhanin.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuhanin.wordpress.com&blog=1500046&post=42&subd=abuhanin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhanin.wordpress.com/2009/04/23/amazon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64d165f9d7e76988dcc87126be7bd95e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuhanin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Manusia &#8220;Super Dahsyat&#8221;</title>
		<link>http://abuhanin.wordpress.com/2008/10/09/menjadi-manusia-super-dahsyat/</link>
		<comments>http://abuhanin.wordpress.com/2008/10/09/menjadi-manusia-super-dahsyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 06:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuhanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhanin.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[


Menjadi Manusia &#8220;Super Dahsyat&#8221;


Oleh : ilham fatahillah 






Mungkinkah manusia memiliki kekuatan sepuluh kali lipat? Mungkin saja. Dalam pembahasan ini kita tidak berbicara tentang kekuatan dari ilmu-ilmu kesaktian yang beraroma syirik, tapi kita bicara tentang kekuatan yang bisa dimiliki oleh manusia tanpa harus berbuat syirik.Dan kekuatan ini hendaknya kita semua memilikinya, karena jika kita memiliki kekuatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuhanin.wordpress.com&blog=1500046&post=37&subd=abuhanin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="95%" align="center">
<tbody>
<tr>
<td class="judul-berita">Menjadi Manusia &#8220;Super Dahsyat&#8221;</td>
</tr>
<tr>
<td><em>Oleh : ilham fatahillah </em></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td class="text-content">
<p align="justify">Mungkinkah manusia memiliki kekuatan sepuluh kali lipat? Mungkin saja. Dalam pembahasan ini kita tidak berbicara tentang kekuatan dari ilmu-ilmu kesaktian yang beraroma syirik, tapi kita bicara tentang kekuatan yang bisa dimiliki oleh manusia tanpa harus berbuat syirik.Dan kekuatan ini hendaknya kita semua memilikinya, karena jika kita memiliki kekuatan sepuluh kali lipat, maka hasilnya akan sepuluh kali lipat pula. Dan jika kita ingin meningkatkan perolehan hasil, maka tingkatkanlah kekuatan yang kita miliki itu. Lalu bagaimana caranya? Untuk mendapatkan kekuatan yang dahsyat itu, Allah SWT telah membeberkan rahasianya. Simaklah ayat berikut ini!</p>
<p align="justify"><em>&#8220;Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.&#8221; (QS.Al Anfaal:65)</em></p>
<p align="justify">Dalam ayat tersebut, Allah SWT memberitahukan pada kita bahwa jika kita ingin memiliki kekuatan sepuluh kali lipat, maka harus bekerja dengan sabar. Dalam perang seseorang yang sabar bisa mengalahkan sepuluh orang tentara musuh. Artinya seorang mukmin yang sabar memiliki kekuatan sepuluh kali lipat dibanding dengan kekuatan orang yang tidak sabar. Bahkan dengan sabar Allah juga menjanjikan pahala yang tiada terbatas kepada mereka yang sukses menetapi kesabaran.</p>
<p align="justify"><em>&#8220;Sesungguhnya  hanya orang-orang yang sabar sajalah yang dicukupkan pahala mereka tanpa  batas.&#8221; ( QS. Az Zumar 10 ).</em></p>
<p align="justify">Dengan membaca ayat-ayat tersebut, menjadi jelaslah bahwa kekuatan itu terletak pada kesabaran. Dan dengan kesabaran, kita tidak hanya mendapatkan kekuatan yang berlipat-lipat, tapi juga mendapatkan banyak keutamaan diantaranya meraih pahala yang sifatnya tidak terbatas. Subhanallah&#8230; Sungguh beruntung sekali jika kita bisa mendapatkannya.</p>
<p align="justify">Seharusnya hal ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Bisa jadi selama ini kita telah menyia-nyiakan potensi kekuatan yang dahsyat itu di dalam diri kita karena kita tidak sabar.</p>
<p align="justify">Sabar telah mendapat perhatian yang sangat besar di dalam al Qur&#8217;an, disebutkan sekitar 90 tempat dalam berbagai ayat. Hal ini menunjukkan betapa sabar memiliki keutamaan yang sangat banyak dan menjadi wajib hukumnya untuk dipraktekan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Oleh karena itu marilah kita meningkatkan kesabaran demi kehidupan yang lebih baik.</p>
<p align="justify"><strong>Kebutuhan  Manusia terhadap Sabar</strong><br />
Manusia dalam kehidupannya suatu saat pasti menghadapi cobaan atau ujian. Jika cobaan atau ujian itu telah datang, pada saat itulah dibutuhkan kesabaran. Semakin besar cobaan yang menimpa, semakin besar pula kebutuhan persediaan kesabaran. Dan bagi mereka yang tidak sabar, tentu akan dikecewakan oleh tindakannya itu. Karena ketidaksabaran justru akan menambah tekanan batin dan melemahkan kekuatan.</p>
<p align="justify">Memang sabar itu adalah sebuah kata yang indah dan mudah diucapkan dengan lisan namun sangat sulit untuk dipraktekan. Akan tetapi jika kita ingin sukses dalam kehidupan ini, tidak bisa tidak kita harus memakai sabar dalam setiap tindakan kita.</p>
<p align="justify">Dan perlu diketahui pula bahwa bersabar itu bukan berarti diam menunggu atau pasrah dengan alasan menerima taqdir tanpa berbuat apa-apa, justru sabar ada pada &#8220;kerja&#8221; bukan pada diam.</p>
<p align="justify">Sabar adalah tetap melakukan apa yang harus kita lakukan. Jika kita tetap melakukan apa yang harus kita lakukan dengan penuh kesabaran, maka kekuatan kita akan berlipat ganda. Kita akan menjadi manusia yang super dahsyat insyaAllah!</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in Tazkiyah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuhanin.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuhanin.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuhanin.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuhanin.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuhanin.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuhanin.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuhanin.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuhanin.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuhanin.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuhanin.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuhanin.wordpress.com&blog=1500046&post=37&subd=abuhanin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhanin.wordpress.com/2008/10/09/menjadi-manusia-super-dahsyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64d165f9d7e76988dcc87126be7bd95e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuhanin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dakwah Tauhid Tidak Up To Date Lagi?</title>
		<link>http://abuhanin.wordpress.com/2008/05/20/dakwah-tauhid-tidak-up-to-date-lagi/</link>
		<comments>http://abuhanin.wordpress.com/2008/05/20/dakwah-tauhid-tidak-up-to-date-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 07:47:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuhanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhanin.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan :
Assalamualaikum
Membaca jawaban tentang &#8216;apakah ustad anti wahabi?&#8217; apakah betul ustad bahwa dakwah tauhid sudah tidak up to date lagi. bukankah yang menjadi prioritas utama para nabi adalah tauhid, baru yang lain.
Saya pernah membaca tulisan syaikh al-albani bahwa dakwah tauhid adalah prioritas pertama dan utama. lantas bagaimana dengan berpartai ustad apakah ada landasannya. terimakasih sebelumnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuhanin.wordpress.com&blog=1500046&post=25&subd=abuhanin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Pertanyaan :</strong><br />
Assalamualaikum</p>
<p>Membaca jawaban tentang &#8216;apakah ustad anti wahabi?&#8217; apakah betul ustad bahwa dakwah tauhid sudah tidak up to date lagi. bukankah yang menjadi prioritas utama para nabi adalah tauhid, baru yang lain.</p>
<p>Saya pernah membaca tulisan syaikh al-albani bahwa dakwah tauhid adalah prioritas pertama dan utama. lantas bagaimana dengan berpartai ustad apakah ada landasannya. terimakasih sebelumnya ustad</p>
<p>Dwi Mardani<br />
dwi.mardani@gmail.com<br />
<span id="more-25"></span><br />
Jawaban</p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Mungkin kita perlu bedakan cara kita memandang masalah ini. Istilah dakwah tauhid sudah tidak &#8216;up to date&#8217; harus dilihat pengertianya secara luas, bukan dicari-cari celah kelemahannya.</p>
<p>Maksudnya tentu bukan mengecilkan upaya untuk membenahi tauhid umat Islam. Sama sekali tidak. Sebab dalam struktur kehidupan, tauhid landasan hidup kita. Di mana tanpa tauhid yang benar, jelas sekali kita tidak bisa masuk surga.</p>
<p>Akan tetapi yang kami maksud dengan istilah &#8216;up to date&#8217; sungguh jauh dari pengertian ini. Up to date sesuai dengan makna yang sering kita gunakan, adalah sesuatu yang paling baru dan berkembang di tengah masyarakat.</p>
<p>Misalnya, ada mode pakaian yang up to date, artinya mode pakaian itu baru saya diluncurkan dan menjadi trend pada saat ini. Begitu juga dengan jenis handphone, begitu berlomba para produsen untuk mengeluarkan produk terbaru, dengan fasilitas terbaru, dengan harga terbaru juga tentunya, sehingga dikatakan handphone itu &#8216;up to date&#8217;.</p>
<p>Istilah &#8216;up to date&#8217; mengesankan adanya dinamika dan perubahan terus menerus, dari sebelumnya ke yang sudahnya. Yang tadinya up to date, seiring dengan berjalannya waktu, berubah menjadi usang dan kuna, karena ditinggalkan oleh orang. Dan karena sudah ada lagi produk terbaru yang lebih &#8216;up to date&#8217;.</p>
<p>Nah, permasalahan umat sejak dari masa nabi yang di masa lampau juga selalu berganti. Dan kalau kita perhatikan, permasalahan itu berbeda-beda pada tiap nabi.</p>
<p>Misalnya, urusan mengenal Allah (ma&#8217;rifatullah) dari bertuhan yang banyak, kasusnya lebih dominan dalam kisah Nabi Ibrahim &#8216;alaihissalam. Bahkan beliau sendiri terlibat dalam pencarian sosok Allah SWT. Setelah sebelumnya beliau beranggapan bahwa bintang, bulan dan matahari adalah Allah SWT.</p>
<p>Nabi Luth</p>
<p>Tema besar Nabi Luth &#8216;alahissalam adalah masalah homoseksual dan lesbianisme. Kaumnya, Sodom, adalah penemu pertama prilaku liar yang bahkan binatang sekali pun tidak pernah melakukannya.</p>
<p>Kalau kita perhatikan, maka kaum ini kemudian dihancurkan karena pelanggaran masalah syariah yang satu ini. Bukan karena mereka meramal, datang ke dukun, atau karena berpaham asy&#8217;ariyah dan maturidiyah. Mereka tidak pernah meributkan urusan kalam Allah, apakah makhluq atau bukan makhluq. Mereka dihancukan karena melakukan perbuatan homoseksual.</p>
<p>Salah besar kalau ada yang beranggapan dihancurkannya kaum Sodom karena syirik kepada Allah. Tema besar kaum ini bukan pada urusan syirik. Kenapa harus dipaksa-paksa harus syirik.</p>
<p>Kutukan Menjadi Kera</p>
<p>Sedangkan dosa penduduk yang tinggal di pinggir laut di masa Bani Israil adalah karena melanggar larangan bekerja di hari Sabtu. Allah SWT telah menetapkan bahwa hari Sabtu adalah hari ibadah, di mana mereka wajib meninggalkan semua urusan duniawi, masuk ke dalam shauma&#8217;ah (tempat ibadah orang yahudi) untuk ibadah kepada Allah.</p>
<p>Namun mereka melakukan pelanggaran dan berkilah dengan beragam teknik agar tetap bisa menangkap ikan di hari Sabtu.</p>
<p>Maka atas pelanggaran ini, Allah SWT mengutuk mereka menjadi kera yang hina. Dan kisah mereka diabadikan di dalam Al-Quran Al-Kariem.</p>
<p>Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, &#8220;Jadilah kamu kera yang hina.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 65)</p>
<p>Coba perhatikan, apakah kasus mereka ini kasus pelanggaran tauhid dan akidah? Ataukah pelanggaran masalah syariah?</p>
<p>Kalau pikiran kita terang, tidak mungkin kita bilang bahwa pelanggaran ini termasuk kasus aqidah. Jelas sekali pelanggaran yang mereka lakukan adalah pelanggaran fiqhiyah. Pelanggaran untuk tidak bekerja di hari Sabtu.</p>
<p>Mereka tidak dihukum dan dikutuk menjadi kera karena datang ke dukun, atau tukang ramal, atau karena melakukan bid&#8217;ah, atau karena ikut kelompok paham akidah tertentu yang sering dituduh sesat. Tidak, sama sekali tidak. Mereka melanggar larangan bekerja di hari Sabtu, yang tidak ada kaitannya dengan tema akidah.</p>
<p>Apakah kita masih mau paksakan untuk mengubah sejarah yang sudah terjadi?</p>
<p>Nabi Isa</p>
<p>Tema besar dakwah Nabi Isa &#8216;alaihissam juga bukan masalah tauhid. Yang kita ketahui tema besarnya justru masalah dunia pengobatan dan penyembuhan. Lewat mukjizat dari Allah SWT, Al-Masih itu bisa mengusap orang sakit dan langsung sembuh. Kalau dia mengusap jenazah yang terbujur kaku, maka jenazah itu atas izin Allah SWT, bisa hidup lagi.</p>
<p>Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah.&#8221; (QS. Ali Imran: 49)</p>
<p>Jelas sekali tidak ada urusan masalah tauhid ketika Nabi Isa masih hidup. Urusan masalah tauhid tentang Nabi Isa justru terjadi sepeninggal beliau, ketika orang-orang mulai menjadikan dirinya anak tuhan.</p>
<p>Kesimpulan:</p>
<p>1. Tauhid adalah landasan paling esensial dari struktur keIslaman, di mana semua nabi dan rasul memang mengajarkan dan menanamkan tauhid ini kepada semua kaumnya.</p>
<p>2. Namun tema-tema yang ditetapkan Allah SWT terhadap tiap kaum seringkali beragam. Ada tema tentang sihir, ada tema tentang kekuasaan, ada tema tentang pengobatan, pelangaran hari ibadah, homoseksual dan seterusnya. Ini juga tidak bisa dipungkiri.</p>
<p>3. Maka kita perlu membedakan antara landasan utama keIslaman dengan tema-tema yang telah ditetapkan Allah SWT kepada tiap kaum. Sebab tiap nabi pun ternyata dibekali dengan &#8217;senjata&#8217; yang cocok dengan tema yang sedang &#8216;up to date&#8217; di masa mereka masing-masing.</p>
<p>4. Seorang juru dakwah tentu perlu mengetahui tema-tema yang sedang berkembang, agar dia memiliki &#8217;senjata&#8217; yang up to date yang bisa sesuai dengan perkembangan yang berlaku. Sehingga dia tidak ditinggalkan kaumnya. Dan kehadirannya menjadi solusi buat kehidupan, bukan malah semakin bikin pusing.</p>
<p>5. Tentang berpartai, kami sudah seringkali kemukakan di rubrik ini bahwa dalam kondisi tertentu, berpartai itu bisa menjadi kemungkaran dan bahkan dosa besar.</p>
<p>Akan tetapi sebaliknya, bisa juga menjadi salah satu alat dakwah yang efektif. Semua tergantung kondisi yang up to date dan kedalaman pandangan kita dalam melihat kondisi yang nyata di tengah kehidupan kita.</p>
<p>Semoga penjelasan ini bisa semakin mendekatkan paradigma yang positif di antara sesama umat Islam.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishsahwab, wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Ahmad Sarwat, Lc</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuhanin.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuhanin.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuhanin.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuhanin.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuhanin.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuhanin.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuhanin.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuhanin.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuhanin.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuhanin.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuhanin.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuhanin.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuhanin.wordpress.com&blog=1500046&post=25&subd=abuhanin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhanin.wordpress.com/2008/05/20/dakwah-tauhid-tidak-up-to-date-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64d165f9d7e76988dcc87126be7bd95e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuhanin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Label Khowarij Bagi Penentang Pemerintah</title>
		<link>http://abuhanin.wordpress.com/2008/01/06/label-khowarij-bagi-penentang-pemerintah/</link>
		<comments>http://abuhanin.wordpress.com/2008/01/06/label-khowarij-bagi-penentang-pemerintah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 00:36:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuhanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhanin.wordpress.com/2008/01/06/label-khowarij-bagi-penentang-pemerintah/</guid>
		<description><![CDATA[Ada sekelompok kecil dari kaum muslimin yang selalu memusuhi saudara muslim lainya dengan menuduh khowarij pada kelompok Islam lain. 
Lagi-lagi mereka yang selalu menuduh seperti itu adalah kelompok yang mengaku Salafi. Tuduhan khowarij itu dilontarkan kepada kelompok-kelompok Islam yang menginginkan tegaknya Syari’at Islam di muka bumi ini. Karena biasanya kelompok-kelompok yang menginginkan tegaknya syari’at Islam, sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuhanin.wordpress.com&blog=1500046&post=24&subd=abuhanin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:22pt;"><font face="Times New Roman"></font></span><font face="Times New Roman">Ada sekelompok kecil dari kaum muslimin yang selalu memusuhi saudara muslim lainya dengan menuduh <i>khowarij</i> pada kelompok Islam lain.</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><font face="Times New Roman">Lagi-lagi mereka yang selalu menuduh seperti itu adalah kelompok yang mengaku Salafi. Tuduhan khowarij itu dilontarkan kepada kelompok-kelompok Islam yang menginginkan tegaknya Syari’at Islam di muka bumi ini. Karena biasanya kelompok-kelompok yang menginginkan tegaknya syari’at Islam, sangat membenci pemerintahan yang sekuler atau yang tidak berhukum dengan hukum Islam. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-indent:28.8pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mereka(baca:Salafi) beralasan bahwa membenci pemerintah dan tidak taat pada pemerintah itu sama dengan khowarij, seperti yang terjadi di jaman Ali bin Abi Thalib. Padahal jelas beda sekali antara pemerintahan sekarang dengan pemerintahan Ali bin Abi Thalib. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-indent:28.8pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kalau mereka memaksakan tuduhan seperti itu, berarti mereka menyamakan pemerintahan Ali bin Abi thalib dengan pemerintahan sekuler atau pemerintah yang menjalankan undang-undang bikinan manusia. Padahal kita tahu, bahwa khowarij menentang Ali itu karena proses ‘tahkim’ atau proses tawar menawar dengan Muawiyah yang tidak Islami(menurut khowarij). Bukan menentang sistem pemerintahan yang di pakai oleh Ali saat itu.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-indent:28.8pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kalau sikap tidak setuju pada pemerintah yang tidak islami itu termasuk fikrah khowarij, kenapa mereka(salafi) tidak melabelkan istilah khowarij pada Syaikhul islam Ibnu Taimiyah atau Syaikh Abdul Wahhab.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-indent:28.8pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ibnu Taimiyah menentang pemerintahan Holako Khan, karena dia memakai hukum <i>elyasek</i> dalam pemerintahannya. Sehingga beliau meyakinkan ummat Islam untuk memerangi Holako Khan yang sudah muslim waktu itu.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-indent:28.8pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sedangkan Syaikh Abdul Wahhab yang terkenal dengan gerakan wahabinya juga pernah menentang dan <i>bughot</i> terhadap khilafah Turki Utsmani, karena pemerintahan Turki Utsmani dianggap tidak Islami.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-indent:28.8pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Untuk lebih jelasnya, di bawah ini kami nukilkan sekilas tentang asal muasal gerakan Wahabi dari koleksi buku Indraganie.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Gerakan Wahhabi tidak dapat dilepaskan dari seorang ulama asal Najad –tepatnya lahir di ‘Uyaynah- bernama Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Sebelum minyak ditemukan pada abad ke-20, kehidupan di Najad memiliki ciri khas gurun atau nomad. Kota-kotanya sedikit, wujudnya tak lebih dari pondok dari lumpur. Sebagian besar penduduknya hidup berpindah-pindah mencari lahan subur, dengan demikian mereka tidak punya atau tidak (mau) tunduk kepada kekuasaan yang terpusat. Sepanjang sejarahnya, peradaban canggih di Arabia sempat muncul di selatan, utara dan timur. Najad boleh dibilang terpencil. Semasa hidupnya wilayah utara, selatan, barat dan timur Arabia dikuasai oleh Kesultanan Turki ‘Utsmaniyyah (1299-1924). Selama berabad-abad praktis Najad bebas dari kekuasaan asing karena jauh dari pesisir dan didominasi gurun.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Dia berasal dari keluarga yang turun temurun menonjol dalam hal ilmu agama, tak heran jika dia tertarik menjadi ahlinya. Sejak remaja dia berda’wah di kampung halamannya, dan langsung menerima resiko dimusuhi.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Setelah berfikir sematang-matangnya dia pindah ke Dar’iyyah atau Dir’iyyah dan disambut dengan simpatik oleh Muhammad bin Sa’ud, seorang raja kecil yang kelak menjadi leluhur para raja Arab Saudi. Leluhur Bin Sa’ud menetap di Dar’iyyah sejak sekitar abad ke-16.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Boleh dibilang tidak ada yang baru dari da’wahnya. Dia hanya ingin kaum Muslim kembali memperlakukan agamanya berdasar sumber asli yaitu kitab dan sunnah. Ijtihad dilaksanakan jika tidak ditemukan dasarnya dari dua perkara itu –dan itu memang dibolehkan dalam agama. Tahap dalam memahami agama adalah tafsirkan ayat dengan ayat, tafsirkan ayat dengan hadits, dan pilihan terakhir adalah tafsirkan kasus dengan ijtihad.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Sebelum bertemu dengan Bin Sa’ud, dia merantau menuntut ilmu antara lain ke Madinah, Bashrah, Baghdad dan Qum bahkan konon ke Perancis. Hasil perantauan tersebut meyakinkan dia bahwa kebekuan dan penyimpangan kaum Muslim telah merata, bukan hanya di kampung halaman. Walau masyarakat kampung halaman adalah bangsa Arab –dan tentu berbahasa Arab– ternyata bukan jaminan mampu memahami agama dengan tepat. </span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Pertemuan atau duet 2M (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dengan Muhammad bin Sa’ud) tersebut diperkuat oleh sumpah setia menurut Islam yang lazim disebut bai’at, inilah awal Revolusi Wahhabi (1744-1818). Boleh dibilang revolusi ini adalah awal kebangkitan Muslim. Bin Sa’ud dipilih sebagai raja dan Bin ‘Abdul Wahhab sebagai penasihatnya.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Pada periode tersebut boleh dinilai bertepatan dengan  gerakan di dunia Barat yang lazim disebut Aufklarung, gerakan ini boleh dibilang lanjutan dari Renaissance. </span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Gerakan tersebut membuahkan 3 revolusi yang menentukan dunia yaitu Revolusi Industri (1769), Revolusi Amerika (1775-1783), Revolusi Perancis (termasuk Perang Napoleon) pada 1789-1815. Dampaknya luar biasa, hasil dari Aufklarung terasa pada abad ke-19. Untuk pertama kali Barat mengungguli Timur hingga kini, terutama dalam hal teknologi. Dan hal itu berdampak pada bidang sosio-religi, kemajuan teknologi Barat mempermudah usaha mereka menjajah: penjajahan semakin merajalela! Dengan penjajahan, Barat berpeluang memasukkan nilai-nilainya kepada Timur –yang disengaja atau tidak, cenderung merusak tatanan walau tentu harus diakui ada segi baiknya. Apa yang disebut kemajuan peradaban Barat yang dibawa ke Timur sesungguhnya adalah hasil pengembangan dari peradaban Timur semisal dari Mesir, Mesopotamia, Arabia, India dan Cina.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Ibnu ‘Abdul Wahhab dan Ibnu Sa’ud mungkin tidak tahu menahu tentang gejolak internasional tersebut di atas, wilayah Najad sedemikian terpencil akibat gurun yang luas. Hal tersebut juga agaknya yang menyebabkan mereka tidak atau belum berniat berda’wah ke arah non Muslim. Selain itu, Najad juga bukan wilayah yang berbatasan dengan wilayah non Muslim. Mereka menyaksikan bahwa masyarakat kampung halaman sendiri butuh da’wah, maka strategi yang tepat dipakai –minimal untuk beberapa lama– adalah mengislamkan orang yang sudah Islam. Kaum Muslim kembali dituntun atau dituntut, untuk kembali mengenal agamanya sendiri sesuai dengan kitab dan sunnah. Namun kelak seiring perjalanan waktu gerakan Wahhabi berbenturan dengan imperialisme Barat yang bangkit seiring dengan kebangkitan intelektualnya, hingga saat ini.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Gerakan Wahhabi menerapkan dua metode da’wah yaitu da’wah bil lisaan (da’wah dengan bicara) dan da’wah bil haal (da’wah dengan tindakan). Selain khutbah di masjid juga mulai merusak berbagai lokasi yang dinilai keramat oleh umat. Di Najad ada beberapa kubur, gua dan pohon yang dikeramatkan, baginya perilaku tersebut tiada beda dengan menciptakan atau menghadirkan kembali suasana pra Islam. Jika terus dibiarkan, bukan mustahil Islam tidak disebut-sebut lagi, apalagi diamalkan.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Larangan meminta-minta di situs keramat, dan perusakan berbagai situs keramat, tak pelak lagi membangkitkan kemarahan masyarakat. Namun duet 2M tidak peduli. Mereka bertekad mewujudkan niatnya dengan manis, bahkan dengan pahit jika perlu. Untuk itu pasukan perlu dibentuk dan didampingi mubaligh atau da’i. Selain membimbing para prajurit, para guru agama juga memberi tuntunan kepada masyarakat di suatu tempat yang telah ditaklukan oleh tentara.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Demikianlah, ketika Bin Sa’ud wafat pada 1765 sebagian besar Najad telah ditaklukan kaum Wahhabi.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Putranya yaitu ‘Abdul ‘Aziz dipilih menggantikan Bin Sa’ud. Setelah Najad ditaklukan, Provinsi al-Hasa –terletak di pantai Teluk Persia- menjadi target berikutnya. Mayoritas pantai timur Arabia adalah Muslim Syi’ah. Syi’ah muncul pada abad ke-7 saat terjadi perang saudara kaum Muslim antara ‘Ali bin Abu Thalib dengan Muawiyyah bin Abu Sufyan karena perebutan kekuasaan sebagai khalifah, yaitu sebutan bagi pengganti “fungsi” Nabi Muhammad sebagai kepala negara. Syi’ah berpendapat bahwa hak kekhalifahan adalah berasal dari keturunan Muhammad via putrinya yaitu Fathimah az- Zahra dengan ‘Ali. Dua kelompok Muslim lain yaitu Suni dan Khawarij berpendapat bahwa khalifah dipilih berdasar pemilu. Persoalan politik tersebut akhirnya merambah ke bidang ritual dan akidah.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Kaum Syi’ah berfaham mengeramatkan tokoh tertentu dan kuburnya, tempat-tempat yang dinilai suci oleh Syi’ah banyak terdapat di ‘Iraq dan Iran. Dua negeri tersebut memang mayoritas Syi’ah. Di Indonesia, pengaruh Syi’ah nampak pada perayaan Tabut di Sumatera Barat dan Bengkulu. Perayaan tersebut untuk mengenang pembantaian cucu nabi yaitu Hussayn bin ‘Ali bin Abu Thalib oleh pasukan Kerajaan Ummayyah di Karbala, kini masuk wilayah ‘Iraq.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Setelah aktivis Wahhabi menaklukan Hasa, pandangannya tertuju pada ‘Iraq. Hasrat menaklukan negeri tersebut berakibat mereka dikenal terutama di dunia Muslim, dalam arti menghebohkan. Ketika itu ‘Iraq masuk wilayah Kerajaan Turki ‘Utsmaniy, negara terkemuka di dunia Muslim. Walau sejak abad ke-17 negara tersebut melemah, namun tetap dipandang dengan hormat oleh kaum Muslim, mengingat tempat-tempat suci utama Muslim yaitu di Hijaz –lazim disebut Haramayn- dan Palestina juga masuk wilayah ‘Utsmaniy. Lagi pula Turki termasuk negara Muslim besar selain Persia, Moghul-India dan Marokko.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Pasukan Wahhabi menyerbu ‘Iraq pada tahun 1801, kota-kota suci semisal Bashrah, Kufah dan Karbala direbut. Di Karbala, terdapat kubur Hussayn bin ‘Ali bin Abu Thalib. Pasukan Wahhabi menjarah, merusak dan membunuh di kota tersebut. Sekitar dua tahun kemudian mereka menyerbu Hijaz – tempat suci sebagaimana tersebut di atas. Beberapa tempat yang dikeramatkan ada yang dirusak, selebihnya hanya dijaga dari upaya perilaku syirik dan bid’ah semisal makam nabi di Madinah. Adapun rumah tempat lahir Muhammad kini beralih fungsi menjadi pustaka.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Serbuan ke jantung dunia Muslim menyentakkan dunia, yang paling cemas adalah Turki. Tidak diduga bahwa gerakan yang pada awalnya dinilai hanya sebagai konflik ala nomad -yang lazim terjadi di wilayah steppa atau gurun terkait masalah perebutan lahan subur– ternyata menjadi semacam kebangkitan dengan ideologi yang jelas. Walaupun sama-sama berfaham Suni, Turki tidak menerima penguasaan Haramayn di pegang Wahhabi, atau siapa pun selain dirinya. Mau ditaruh di mana muka di hadapan dunia –terutama Muslim– jika kekuasaan di Haramayn terlepas? Lagipula, kaum Wahhabi menilai bahwa pemerintah Turki kurang Islami sehingga tidak layak menjadi pemimpin dunia Muslim. Kaum Syi’ah sama cemasnya jika Haramayn dikuasai Wahhabi, mereka hampir pasti dipersulit atau dilarang untuk datang padahal haji termasuk rukun Islam dan hanya dapat dilaksanakan di Haramayn. Penyerbuan ke ‘Iraq yang dinilai begitu kejam belum lama berselang sebelum ke Hijaz masih segar dalam ingatan. </span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Turki ingin bertindak namun terhadang masalah. Pembusukan di dalam dengan begitu banyak perselingkuhan –sebagaimana dikritik kaum Wahhabi- dalam mengelola negara dan penyerbuan balik oleh bangsa-bangsa Eropa berakibat sulit menghimpun pasukan. Karena itu tugas menumpas gerakan Wahhabi diserahkan kepada Mesir, wilayah setengah merdeka dalam naungan Turki. Penguasanya bernama Muhammad ‘Ali Basya atau Pasya.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Muhammad ‘Ali melantik putranya yaitu Tursun atau Tusan sebagai panglima operasi penumpasan. Dia bergerak pada tahun 1816.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Ibnu ‘Abdul Wahhab wafat pada 1792 dan ‘Abdul ‘Aziz menyusul tak lama setelah penaklukan Haramayn. ‘Abdul ‘Aziz diganti oleh Sa’ud, yang wafat pada tahun 1814. Putra Sa’ud yaitu ‘Abdullah terpilih menjadi pemimpin gerakan, dan dialah yang menghadapi serbuan pasukan Mesir.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Pergantian secara turun temurun dari Muhammad bin Sa’ud –bahkan hingga kini– menunjukkan bahwa gerakan Wahhabi sekian lama belum menyentuh pembenahan di bidang politik. Sistem yang jelas-jelas monarki terkesan sejauh ini dibiarkan, padahal Islam memiliki konsep memilih pemimpin melalui pemilu, artinya Islam lebih berfaham republik dibandingkan monarki. Konsep monarki cenderung membatasi peran politik hanya kepada kelompok tertentu –katakanlah keluarga tertentu– yang jelas memperkecil peluang umat kebanyakan untuk turut serta. </span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Kini dapat kita saksikan bahwa para pemegang jabatan yang terkait dengan negara atau politik di Kerajaan Arab Saudi hampir semua dari Keluarga Sa’ud. Baru beberapa tahun terakhir ini terdapat gejolak di dalam negeri tersebut yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok berfaham Wahhabi pula yang mengkritisi sistem monarki. Yang sejauh ini menonjol tentu saja Usamah bin Ladin, dia bertekad menghapus sistem tersebut, bila perlu dengan kekerasan. Usamah agaknya cenderung mengutamakan pembebasan kaum Muslim yang cenderung dizhalimi oleh non Muslim berikut antek-anteknya dalam kaum Muslim, sehingga ada perbedaan dengan skala prioritas dengan Ibnu ‘Abdul Wahhab, yang mengutamakan pembenahan dalam ritual dan akidah sekaligus kurang membenahi ranah politik. </span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Kembali ke usaha penumpasan, tujuan pokok adalah merebut Haramayn, kota-kota Makkah dan Madinah direbut nyaris bersamaan. Pasukan Wahhabi mundur dari Hijaz dan Muhammad ‘Ali bertekad mengejar ke pusatnya. Putranya yang lain yaitu Ibrahim dipilih untuk bergerak ke Najad</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Pasukan Mesir butuh waktu sekitar dua tahun untuk merebut Dar’iyyah. Walau kalah canggih, pasukan Wahhabi mampu merepotkan pasukan Mesir. Begitu pertahanan Wahhabi ditembus, pasukan Mesir meratakan Dar’iyyah, merusak lahan pertanian di sekitarnya, mengusir keluarga Sa’ud dan menangkap ‘Abdullah. ‘Abdullah dibawa ke Istambul dan dihukum mati. Berakhirlah revolusi pertama Wahhabi.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Penumpasan di bidang militer dan politik digerakkan bersamaan dengan penumpasan di bidang ritual dan teologi. Banyak ulama dikerahkan untuk memfitnah Wahhabi. Ibnu ‘Abdul Wahhab difitnah sebagai keturunan Mussaylamah al-Kadzdzab, seorang nabi palsu yang tampil pasca wafatnya nabi Muhammad SAW. Fitnah tersebut cukup ampuh karena mereka berdua sama-sama asal Najad. Anti keramat kubur difitnah sebagai anti ziarah kubur, anti wasilah difitnah sebagai anti ulama.</span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Mengingat Turki menguasai jantung dunia Muslim, fitnah tersebut sempat laris di dunia Muslim, termasuk di Indonesia. Hal tersebut dimungkinkan karena kaum Muslim melaksanakan ritual haji atau belajar agama di Haramayn. Namun gerakan Wahhabi tak dapat ditumpas-tuntas, secara berangsur gerakan tersebut melangkah ke luar Arabia. Di Arabia sendiri, gerakan tersebut muncul kembali pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdul Rahman al-Sa’ud mengobarkan revolusi Wahhabi mirip dengan Muhammad bin Sa’ud, dia persatukan suku-suku –sering dengan kekerasan– sekaligus perang melawan Turki. Ketika itu rasa tak puas terhadap Turki nyaris merata di Arabia. </span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Tokoh lain yaitu Syarif Hussayn bahkan merasa perlu bersekutu dengan Inggris untuk melawan Turki ketika Perang Dunia ke-1 (1914-198), dia lebih tepat dinilai dimanfaatkan. Inggris menjanjikan dia sebagai raja bukan hanya di Arabia namun juga mencakup Syam –kini mencakup Suriah, Palestina, Libanon dan Yordania– serta Mesopotamia, yang kini mencakup ‘Iraq dan Kuwait. Dengan senjata dan sejumlah perwira Inggris dia sukses mengusir pasukan Turki. Ketika usai perang, Inggris membiarkan dia perang sendirian dengan ‘Abdul ‘Aziz. Inggris mengkhianatinya dengan cara membagi wilayah dengan Perancis dan memasukkan kaum zionis ke Palestina. ‘Iraq, Kuwait, Yordania dan Palestina menjadi mandat Inggris; Libanon dan Suriah menjadi mandat Perancis. </span></i><i><span style="font-family:'Times New Roman';">Mandat adalah istilah halus untuk jajah atau caplok. Akibatnya, ‘Abdul ‘Aziz sukses merebut Haramayn dan Syarif Hussayn lari Yordania dan berkuasa turun temurun di situ dengan nama Dinasti Hasyimiyyah. Pada tanggal 23 September 1932 ‘Abdul ‘Aziz mengumumkan pembentukan Kerajaan Arab Saudi dengan ibu kota Riyadh, masuk Provinsi Najad dan menyatakan Wahhabi sebagai ‘faham’ resmi negara. Tercapailah tujuan duet 2M pada abad ke-18 tersebut setelah perjuangan yang berdarah-darah.</span></i></p>
<p style="text-indent:28.8pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dari kisah di atas, menjadi jelaslah bahwa ternyata Syaikh Abdul Wahab juga pernah menentang dan bahkan bughot terhadap kekhilafahan Turki Utsmani, karena khilafah Turki Utsmani semakin tidak Islami pada waktu itu.</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuhanin.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuhanin.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuhanin.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuhanin.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuhanin.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuhanin.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuhanin.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuhanin.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuhanin.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuhanin.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuhanin.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuhanin.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuhanin.wordpress.com&blog=1500046&post=24&subd=abuhanin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhanin.wordpress.com/2008/01/06/label-khowarij-bagi-penentang-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64d165f9d7e76988dcc87126be7bd95e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuhanin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FATAWA AHLUS SUNNAH WAL JAMA&#8217;AH</title>
		<link>http://abuhanin.wordpress.com/2008/01/03/fatawa-ahlus-sunnah-wal-jamaah/</link>
		<comments>http://abuhanin.wordpress.com/2008/01/03/fatawa-ahlus-sunnah-wal-jamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 07:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuhanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhanin.wordpress.com/2008/01/03/fatawa-ahlus-sunnah-wal-jamaah/</guid>
		<description><![CDATA[ 	 	 	 	 	
BERKASIH SAYANG DAN LEMAH LEMBUT
Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr
RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &#38; HAJR]
Allah menjelaskan bahwa Nabi-Nya, Muhammad, sebagai orang yang memiliki akhlak yang agung. Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Sungguh, kamu mempunyai akhlak yang agung” [Al-Qalam : 4]
Allah juga menjelaskan bahwa beliau adalah orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuhanin.wordpress.com&blog=1500046&post=23&subd=abuhanin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><title></title> 	 	 	 	<!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--> 	</p>
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">BERKASIH SAYANG DAN LEMAH LEMBUT</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Allah menjelaskan bahwa Nabi-Nya, Muhammad, sebagai orang yang memiliki akhlak yang agung. Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Artinya : Sungguh, kamu mempunyai akhlak yang agung” [Al-Qalam : 4]</p>
<p>Allah juga menjelaskan bahwa beliau adalah orang yang ramah dan lemah lembut. Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu” [Ali Imran : 159]</p>
<p>Allah juga menjelaskan bahwa beliau adalah orang yang penyayang dan memiliki rasa belas kasih terhadap orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” [At-Taubah : 128]</p>
<p>Rasulullah memerintahkan dan menganjurkan kita agar senantiasa berlaku lemah lembut. Beliau bersabda.</p>
<p>“Artinya : Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari”</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734 dari Anas bin Malik. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim no. 1732 dari Abu Musa dengan lafaz.</p>
<p>“Artinya : Berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari. Mudahkanlah dan janganlah kalian persulit”.</p>
<p>Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no.220 meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya pada kisah tentang seorang Arab Badui yang kencing di masjid.</p>
<p>“Artinya : Biarkanlah dia ! Tuangkanlah saja setimba atau seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan untuk mempersulit”</p>
<p>Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah hadits no.6927 bahwa Rasulullah bersabda.</p>
<p>“Artinya : Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan”</p>
<p>Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim no. 2593 dengan lafaz.</p>
<p>“Artinya : Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya”</p>
<p>Muslim meriwayatkan hadits dalam kitab Shahihnya no.2594 dari Aisyah, Nabi bersabda.</p>
<p>“Artinya : Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek”</p>
<p>Muslim juga meriwayatkan hadits no. 2592 dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi bersabda.</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan”.</p>
<p>Allah pernah memerintahkan dua orang nabiNya yang mulia yaitu Musa dan Harun untuk mendakwahi Fir’aun dengan lembut. Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Artinya : Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia telah berbuat melampui batas. Berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia mau ingat atau takut” [Thaha : 43-44]</p>
<p>Allah juga menjelaskan bahwa para sahabat yang mulia senantiasa saling bekasih sayang. Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah. Orang-orang yang selalu bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” [Al-Fath : 29]</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">FENOMENA TAHDZIR, CELA-MENCELA SESAMA AHLUSSUNNAH DAN SOLUSINYA</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Pertama dari Tiga Tulisan [1/3]</p>
<p>Pada masa sekarang ini, ada sebagian ahlussunnah yang sibuk menyerang ahlussunnah lainnya dengan berbagai celaan dan tahdzir. Hal tersebut tentu mengakibatkan perpecahan, perselisihan dan sikap saling tidak akur.<br />
Padahal mereka saling cinta mencintai dan saling berkasih sayang, serta bersatu padu dalam barisan yang kokoh untuk menghadapi para ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlussunnah.</p>
<p>Adanya Fenomena Diatas Disebabkan Dua Hal:</p>
<p>Pertama.<br />
Ada sebagian ahlussunnah pada masa sekarang ini yang menyibukkan diri mencari-cari kesalahan ahlussunnah lainnya dan mendiskusikan kesalahan tersebut, baik yang terdapat di dalam tulisan maupun kaset-kaset. Kemudian dengan bekal kesalahan-kesalahan tersebut mereka melakukan tahdzir terhadap ahlussunnah yang menurut mereka melakukan kesalahan.</p>
<p>Salah satu sebab mereka melakukan tahdzir adalah karena ada Ahlussunnah lain yang bekerjasama dengan salah satu yayasan yang bergerak dalam bidang keagamaan untuk mengadakan ceramah-ceramah atau seminar-seminar keagamaan. Padahal Syaikh abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah memberikan ceramah kepada pengurus yayasan keagamaan tersebut melalui telepon. Dan kerjasama Ahlussunnah lain dengan yayasan tersebut sebenarnya sudah dinyatakan boleh oleh dua ulama besar itu dengan fatwa.</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya mereka introspeksi terhadap diri mereka terlebih dahulu sebelum menyalahkan dan mencela pendapat orang lain; apalagi tindakan ahlussunnah lain tadi bersumber dari fatwa ulama besar. Anjuran introspeksi diri seperti ini pernah disampaikan oleh sebagian Sahabat Rasulullah setelah dilangsungkannya perjanjian Hudaibiyah. Sebagian sahabat ada yang berkata, “Wahai Manusia, hendaklah kalian mau introspeksi diri agar tidak menggunakan akal kalian dalam masalah agama.”</p>
<p>Amat disayangkan, padahal mereka yang dicela itu telah banyak membantu masyarakat, baik melalui pelajaran-pelajaran yang disampaikan, karya-karya tulis, maupun khotbah-khotbahnya. Mereka di-tahdzir hanya dikarenakan tidak membicarakan tentang si Fulan atau jamaah tertentu. Sayang sekali memang, fenomena cela mencela dan tahdzir ini telah merembet ke negeri Arab. Ada di antara mereka yang terkena musibah ini yang memiliki keilmuan yang luas dan memiliki usaha yang keras dalam menampakkan, menyebarkan dan menyeru kepada Sunnah. Tidak diragukan lagi bahwa tahdzir terhadap mereka telah menghalangi jalan bagi para penuntut ilmu dan orang-orang yang hendak mengambil manfaat dari mereka, baik dari sisi ilmu maupun ahlak.</p>
<p>Kedua.<br />
Ada sebagian Ahlussunnah yang apabila melihat kesalahan Ahlussunnah lain, maka mereka menulis bantahannya, lalu pihak yang dibantah membalas bantahan tersebut dengan bantahan yang serupa. Pada akhirnya kedua belah pihak sibuk membaca tulisan-tulisan pihak lawan atau mendengarkan kaset-kaset, yang lama maupun yang baru, dalam rangka mencari kesalahan dan kejelekkan lawannya, padahal boleh jadi kesalahan-kesalahan tadi hanya disebabkan karena terpeleset lidah. Semua itu mereka kerjakan secara perorangan atau secara berkelompok. Kemudian tiap-tiap pihak berusaha untuk memperbanyak pendukung yang membelanya dan merendahkan pihak lawannya. Kemudian para pendukung di tiap pihak berusaha keras membela pendapat pihak yang didukungnya dan mencela pendapat pihak lawannya. Merekapun memaksa setiap orang yang mereka temui untuk mempunyai sikap yang jelas terhadap orang-orang yang berada di pihak lawan.</p>
<p>Apabila orang tersebut tidak mau menunjukkan sikapnya secara jelas, maka dia pun dianggap masuk sebagai kelompok ahli bid’ah seperti kelompok lawannya. Sikap tersebut biasanya diikuti dengan sikap tidak akur satu pihak dengan pihak lainnya. Tindakan kedua belah pihak serupa dengan itu merupakan pangkal muncul dan tersebarnya konflik pada skala yang lebih luas. Dan keadaan bertambah parah, karena pendukung masing-masing kelompok menyebarkan celaan-celaan tersebut di jaringan internet, sehingga para pemuda ahlussunnah di berbagai negeri, bahkan lintas benua menjadi sibuk mengikuti perkembangan di website masing-masing pihak. Berita yang disebarkan oleh masing-masing pihak hanyalah berita-berita qila wa qala saja, tidak jelas sumbernya, dan tidak mendatangkan kebaikan sedikit pun, bahkan hanya akan membawa kerusakan dan perpecahan. Sikap yang dilakukan para pendukung masing-masing pihak seperti orang yang bolak balik di papan pengumuman untuk mengetahui berita terbaru yang ditempel. Mereka juga tidak ubahnya seperti supporter olahraga yang saling menyemangati kelompoknya. Permusuhan, kekacauan dan perselisihan sesama mereka merupakan akibat dari dihasilkan sikap-sikap seperti itu.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, hal 69 - 85, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">FENOMENA TAHDZIR, CELA-MENCELA SESAMA AHLUSSUNNAH DAN SOLUSINYA</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Solusi Permasalahan Ini</p>
<p>Ada Beberapa Solusi Yang Bisa Diketengahkan Dalam Permaslahan Ini.</p>
<p>Pertama.<br />
Berkaitan dengan cela mencela dan tahdzir perlu diperhatikan beberapa perkara sebagai berikut:</p>
<p>[1] Orang-orang yang sibuk mencela ulama dan para penuntut ilmu hendaknya takut kepada Allah subhanahu wa Ta’ala dengan tindakkannya tersebut. Mereka hendaknya lebih menyibukkan diri memperhatikan kejelekkan dirinya sendiri agar bisa terbebas dari kejelekan orang lain. Mereka hendaknya berusaha menjaga kekalnya kebaikan yang dia miliki. Janganlah mereka mengurangi amal kebaikan mereka walaupun sedikit, yaitu dengan membagi-bagikannya kepada orang-orang yang dia cela. Hal itu karena mereka lebih membutuhkan kebaikan tersebut dibanding yang lain pada hari dimana harta dan anak-anak takkan berguna kecuali orang yang datang kepada Allah Ta’ala dengan hati yang selamat. [Maksudnya pada hari kiamat, -pen]</p>
<p>[2] Hendaknya mereka berhenti melakukan cela-mencela dan tahdzir, lalu menyibukkan diri memperdalam ilmu yang bermanfaat; bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu agar bisa manfaat dari ilmu tersebut dan menyampaikannya kepada orang lain yang membutuhkannya. Hendaknya mereka menyibukkan diri dengan kegiatan keilmuan, baik dengan belajar mengajar, berdakwah atau menulis. Semua itu jelas lebih membawa kebaikan. Jika mereka melakukan tindakan-tindakan yang baik seperti itu, tentu mereka dikatakan sebagai orang-orang yang membangun. Jadi, janganlah mereka sibuk mencela sesama ahlussunnah, baik yang ulama maupun penuntut ilmu, karena hal itu akan menutup jalan bagi orang-orang yang mendapatkan manfaat keilmuan dari mereka. Perbuatan-perbuatan seperti itu adalah temasuk perbuatan-perbuatan yang merusak. Orang-orang yang sibuk dengan tindakan cela-mencela seperti itu, setelah mereka meninggal tidak meninggalkan bekas ilmu yang bermanfaat, dan manusia tidak merasa kehilangan para ulama yang ilmunya bermanfaat bagi mereka, bahkan sebaliknya, dengan kematian mereka manusia merasa selamat dari keburukan.</p>
<p>[3] Para penuntut ilmu dari kalangan ahlussunnah hendaknya menyibukkan diri dengan kegiatan keilmuan seperti membaca buku-buku yang bermanfaat, mendengarkan kaset-kaset ceramah para ulama ahlussunnah seperti Syaikh bin Baz, Syaikh Ibnu Utsiamin, daripada sibuk menelepon fulan atau si Fulan bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang Fulan atau Fulan?” atau “Bagaimana komentarmu tentang pernyataan Fulan terhadap si Fulan dan tanggapan si Fulan terhadap si Fulan?”</p>
<p>[4] Berkaitan dengan pertanyaan tentang orang-orang yang sibuk dalam bidang keilmuan, mereka boleh dimintai fatwa atau tidak, selayaknya hal tersebut ditanyakan kepada pimpinan Lembaga Fatwa di Riyadh. Dan siapa yang mengetahui keadaan mereka, hendaknya mau melayangkan surat kepada pimpinan Lembaga Fatwa yang berisi penjelasan tentang keadaan mereka untuk dijadikan bahan pertimbangan. Hal itu dimaksudkan agar sumber penilaian cacat seseorang dan tahdzir, apabila memang harus dikeluarkan, maka yang mengeluarkan adalah lembaga yang berkompeten dalam masalah fatwa dan berwenang menjelaskan tentang siapa-siapa yang dapat diambil ilmunya dan dimintai fatwa. Tidak diragukan lagi bahwa lembaga yang dijadikan sebagai rujukan fatwa dalam berbagai permasalahan, juga selayaknya dijadikan sebagai sumber rujukan untuk mengetahui siapa yang boleh dimintai fatwa dan diambil ilmunya. Hendaknya janganlah seseorang menjadikan dirinya sebagai tempat rujukan dalam perkara yang sangat penting ini, karena sesungguhnya termasuk tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi dirinya.</p>
<p>Kedua.<br />
Berkaitan dengan cara membantah orang yang melakukan kekeliruan pendapat perlu diperhatikan beberapa perkara sebagai berikut:</p>
<p>[1] Hendaknya bantahan tersebut dilakukan dengan penuh keramahan dan kelemah-lembutan disertai keinginan yang kuat untuk menyelamatkan orang yang salah tersebut dari kesalahannya, apabila kesalahannya jelas terlihat. Selayaknya seseorang yang hendak membantah pendapat orang lain merujuk bagaimana cara Syaikh bin Baz tatkala melakukan bantahan, untuk kemudian diterapkannya.</p>
<p>[2] Apabila kesalahan orang yang dibantah tadi masih samar, mungkin benar atau mungkin juga salah, maka selayaknya masalah tersebut dikembalikan kepada pimpinan Lembaga Fatwa untuk diberi keputusan hukumnya. Adapun apabila kesalahannya jelas, maka wajib bagi orang yang dibantah tersebut untuk meninggalkannya. Kerena kembali kepada kebenaran adalah lebih baik dari pada tetap tenggelam dalam kebatilan.</p>
<p>[3] Apabila seseorang telah membantah orang lain, maka berarti dia telah menunaikan kewajiban dirinya, maka hendaknya dia tidak menyibukkan diri mengikuti gerak-gerik orang yang dibantah. Sebaliknya, dia selayaknya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun orang lain. Begitulah sikap yang dicontohkan oleh Syaikh bin Baz.</p>
<p>[4] Seorang penuntut ilmu tidak diperbolehkan mengajak orang lain serta memaksanya untuk memilih si Fulan (yang dibantah) atau ikut dia (yang membantah); apabila sepakat dengannya maka dia selamat; namun apabila tidak sepakat maka di bid’ahkan dan diboikotnya.</p>
<p>Tidak boleh seorang pun menisbatkan fenomena tabdi’ (pembid’ahan) dan hajr (pemboikotan) yang kacau seperti ini sebagai manhaj Ahlussunnah. Dan siapapun tidak diperbolehkan menggelari orang yang tidak menempuh jalan yang ngawur ini sebagai orang yang tidak bermanhaj salaf. Boikot (hajr) yang dilakukan dalam manhaj Ahlussunnah adalah boikot yang memberikan manfaat bagi orang yang diboikot, seperti boikot seorang bapak pada anaknya, Syaikh kepada muridnya, dan boikot dari pihak yang memiliki kedudukan dan derajat yang lebih tinggi kepada orang-orang yang menjadi bawahannya. Boikot-boikot seperti itu akan memberikan manfaat bagi orang yang diboikot. Namun apabila boikot itu bersumber dari dari seorang penuntut ilmu kepada penuntut ilmu yang lain, lebih-lebih pada perkara yang tidak selayaknya seseorang diboikot, maka boikot seperti itu tidak manfaat sedikit pun bagi orang yang diboikot, tetapi malah akan menimbulkan permusuhan, saling membelakangi dan saling menghalangi.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, hal 69-85, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">FENOMENA TAHDZIR, CELA-MENCELA SESAMA AHLUSSUNNAH DAN SOLUSINYA</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Ketiga dari Tiga Tulisan [3/3]</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmu’ Fatawa (III/413-414) ketika beliau berbicara tentang Yazid bin Mu’awiyah. Beliau berkata, “Pendapat yang benar adalah pendapat yang dikemukakan oleh para imam, yaitu bahwa Yazid bin Mu’awiyah tidak perlu dicintai secara khusus, namun juga tidak boleh dilaknat. Meskipun dia seorang yang fasiq atau zalim, mudah-mudahan Allah mengampuni orang yang fasiq dan zalim, terlebih lagi dia telah melakukan kebaikan yang besar.</p>
<p>Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah pernah bersabda.</p>
<p>“Pasukan pertama yang memerangi tentara Konstatin akan diampuni dosa-dosanya.”</p>
<p>Dan pasukan pertama yang memerangi tentara Konstatin dipimpin oleh Yazid bin Mu’awiyah, dan Abu Ayyub Al-Anshari ikut dalam pasukan tersebut. Oleh karena itu, selayaknya kita bersikap adil dalam permasalahan tersebut. Kita tidak boleh mencela Yazid bin Mu’awiyah dan memata-matai seseorang dalam bersikap terhadapnya, karena sikap seperti itu adalah bid’ah yang bertentangan dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah.</p>
<p>Dalam kitab yang sama (III/415), beliau juga berkata, “Sikap seperti itu juga akan memecah belah umat Islam. Disamping itu, sikap itu tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.”</p>
<p>Beliau juga berkata dalam kitab yang sama (XX/164), “Tidak boleh seorang pun menjadikan orang lain sebagai figur yang harus diikuti dan sebagai standar dalam berteman atau bermusuhan selain Rasulullah. Tidak diperkenankan pula seseorang menjadikan sebuah perkataan pun sebagai barometer untuk berteman dan bermusuhan selain perkataan Allah dan Rasul-Nya serta ijma’ kaum muslimin. Cara-cara seperti ini adalah termasuk perbuatan ahli bid’ah. Para ahli bid’ah biasa menjadikan figur atau sebuah perkataan sebagai tolak ukur. Mereka berteman ataupun bermusuhan dengan dasar perkataan atau figure tersebut. Akhirnya hanya memecah-belah umat Islam.</p>
<p>Para pendidik tidak boleh mengkotak-kotakkan umat Islam, dan melakukan perbuatan yang hanya akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Bahkan yang seharusnya dilakukan adalah saling menolong atas dasar kebaikan dan takwa, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala.</p>
<p>“Dan Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al-Maidah: 2]</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Rajab ketika menjelaskan hadist: Beliau berkata, “Termasuk tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tak berguna baginya.”</p>
<p>Dalam kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al ‘Hikam (I/288), beliau berkata, “Hadist ini merupakan landasan penting dalam masalah adab. Imam Abu Amru bin Ash Shalah menceritakan bahwa Abu Muhammad bin abu Zaid, salah seorang imam Madzhab Malik pada zamannya, pernah berkata: “Adanya berbagai macam adab kebaikan bercabang dari empat hadist, yaitu hadist Rasulullah:</p>
<p>“Barangsiapa yang beriman dengan Allah Ta’ala dan hari akhirat hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau (kalau tidak bisa) lebih baik diam.”<br />
Lalu hadits:</p>
<p>“Salah satu ciri baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.”</p>
<p>Lalu hadist Rasulullah yang mengandung wasiatnya yang singkat:</p>
<p>“Jangan marah,”</p>
<p>Kemudian yang terakhir hadist:</p>
<p>“Seorang mukmin mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”</p>
<p>Saya Berkata :<br />
Betapa perlunya para penuntut ilmu dengan adab-adab diatas, karena adab-adab tersebut jelas akan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Para penuntut ilmu juga perlu menjauhi sikap dan kata-kata yang kasar yang hanya akan membuahkan permusuhan, perpecahan, saling membenci dan mencerai-beraikan persatuan.</p>
<p>Menjadi kewajiban bagi setiap penuntut ilmu untuk menasehati dirinya sendiri agar berhenti mengikuti tulisan-tulisan di internet yang memuat komentar kedua belah pihak dalam masalah ini. Hendaknya mereka memanfaatkan dan memperhatikan website yang lebih bermanfaat seperti website milik Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang berisi telaah pembahasan-pembahasan ilmiah keagamaan dan fatwa-fatwa beliau yang sampai sekarang telah mencapai dua puluh satu jilid. Website lain yang lebih bermanfaat untuk mereka lihat adalah website Fatwa Lajnah Daimah yang sampai kini telah mencapai dua puluh jilid; begitu pula website Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang berisi telaah kitab-kitab dan fatwa-fatwanya yang banyak dan luas.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, hal 69-85, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">HUKUM BERBURUK SANGKA DAN MENCARI-CARI KESALAHAN</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]</p>
<p>Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]</p>
<p>Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”</p>
<p>Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.</p>
<p>Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.</p>
<p>Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.</p>
<p>Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind, Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selemat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” [Lihat Kitab Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir (XIII/121)]</p>
<p>Komentar saya : “Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau”.</p>
<p>Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.</p>
<p>Beliau juga berkata pad hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">MENJAGA LISAN AGAR SELALU BERBICARA BAIK</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Pertama dari Tiga Tulisan [1/3]</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]</p>
<p>Dalam ayat lain disebutkan.</p>
<p>“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]</p>
<p>Allah juga berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]</p>
<p>Begitu juga firman Allah Ta’ala.</p>
<p>“Artinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]</p>
<p>Dala kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan.</p>
<p>“Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” [1]</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau mengurungkannya” [2]</p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”</p>
<p>Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim no.64 dengan lafaz.</p>
<p>“Artinya : Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.</p>
<p>Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.</p>
<p>Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadits tersebut. Beliau berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu karena lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang sedang terjadi sekarang dan juga yang akan terjadi saat mendatang. Berbeda dengan tangan. Pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan”.</p>
<p>Oleh karena itu, dalam sebuah sya’ir disebutkan :</p>
<p>Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya<br />
Tanganku kan lenyap, namun tulisan tangannku kan abadi</p>
<p>Bila tanganku menulis kebaikan, kan diganjar setimpal<br />
Jika tanganku menulis kejelekan, tinggal menunggu balasan.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah bersabda.</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”</p>
<p>Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah kemaluan.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, hal 22-41, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">MENJAGA LISAN AGAR SELALU BERBICARA BAIK</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”</p>
<p>Imam Nawawi berkomentar tentang hadits ini ketika menjelaskan hadits-hadits Arba’in. Beliau menjelaskan, “Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara”. Sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara”.</p>
<p>Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.</p>
<p>Beliau berkata pula di hal. 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.</p>
<p>Beliau menambahkan di hal. 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”.</p>
<p>Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 [3] dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”</p>
<p>Masalah ini disebutkan pula di akhir hadits yang berisi wasiat Nabi kepada Muadz yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2616 yang sekaligus dia komentari sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda.</p>
<p>“Artinya : Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya ?”</p>
<p>Perkataan Nabi di atas adalah sebagai jawaban atas pertanyaan Mu’adz.</p>
<p>“Artinya : Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan ?”</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini dalam kitab Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam (II/147), “Yang dimaksud dengan buah lisannya adalah balasan dan siksaan dari perkataan-perkataannya yang haram. Sesungguhnya setiap orang yang hidup di dunia sedang menanam kebaikan atau keburukan dengan perkataan dan amal perbuatannya. Kemudian pada hari kiamat kelak dia akan menuai apa yang dia tanam. Barangsiapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapannya maupun perbuatan, maka dia akan menunai kemuliaan. Sebaliknya, barangsiapa yang menanam Sesuatu yang jelek dari ucapan maupun perbuatan maka kelak akan menuai penyesalan”.</p>
<p>Beliau juga berkata dalam kitab yang sama (hal.146), “Hal ini menunjukkan bahwa menjaga lisan dan senantiasa mengontrolnya merupakan pangkal segala kebaikan. Dan barangsiapa yang mampu menguasai lisannya maka sesungguhnya dia telah mampu menguasai, mengontrol dan mengatur semua urusannya”.</p>
<p>Kemudian pada hal. 149 beliau menukil perkataan Yunus bin Ubaid, “ Seseorang yang menganggap bahwa lisannya bisa membawa bencana sering saya dapati baik amalan-amalannya”.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr hal 22-41, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">MENJAGA LISAN AGAR SELALU BERBICARA BAIK</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan [3/3]</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Diriwayatkan bahwa Yahya bin Abi Katsir pernah berkata, “Seseorang yang baik perkataannya dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya, dan orang yang jelek perkataannya pun dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya”.</p>
<p>Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda.</p>
<p>“Artinya : Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ? Para sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda. ‘Beliau menimpali, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.</p>
<p>Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang panjang dalam kitab Shahihnya no. 2564 dari Abu Hurairah, yang akhirnya berbunya.</p>
<p>“Artinya : Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika sampai menghina saudaranya sesama muslim. Seorang muslim wajib manjaga darah, harta dan kehormatan orang muslim lainnya”</p>
<p>Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya hadits no. 1739 ; begitu juga Muslim [4] dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah pernah berkhutbah pada hara nahar (Idul Adha). Dalam khutbah tersebut beliau bertanya kepada manusia yang hadir waktu itu, “Hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari yang haram”. Beliau bertanya lagi, “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Negeri Haram”. Beliau bertanya lagi, “Bulan apakah ini ?” Mereka menjawab, “Bulan yang haram”. Selanjutnya beliau bersabda.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram bagi masing-masing kalian (merampasnya) sebagaimana haramnya ; hari, bulan dan negeri ini. Beliau mengulangi ucapan tersebut beberapa kali, lalu berkata, “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu)? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu) ?”</p>
<p>Ibnu Abbas mengomentari perkataan Nabi di atas, “Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya ini adalah wasiat beliau untuk umatnya. Beliau berpesan kepada kita, ‘Oleh karena itu, hendaklah yang hadir memberitahukan kepada yang tidak hadir. Janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalku nanti, yaitu kalian saling memenggal leher”.</p>
<p>Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2674 dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa yang menyeru kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”</p>
<p>Al-Hafidz Al-Mundziri dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib (I/65) mengomentari hadits.</p>
<p>“Artinya : Apabila seorang manusia wafat, maka terputuslah jalan amal kecuali dari tiga perkara …dst”</p>
<p>Beliau berkata, “Orang yang mebukukan ilmu-ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan pahala dari perbuatannya sendiri dan pahala dari orang yang membaca, menulis dan mengamalkannya, berdaasrkan hadits ini dan hadits yang semisalnya. Begitu pula, orang-orang yang menulis hal-hal yang membuahkan dosa, maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya sendiri dan dosa dari orang-orang yang membaca, menulis atau mengamalkannya, berdasarkan hadits.</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa yang merintis perbuatan yang baik atau buruk, maka ….”</p>
<p>Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6505 dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya Allah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka kuizinkan ia untuk diperangi”</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr hal 22-41, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">NIKMAT MAMPU BERBICARA DAN MENJELASKAN</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Sesungguhnya kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-hambanya tak terhitung dan terhingga banyaknya. Dan termasuk salah satu nikmat agung yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah nikmat mampu berbicara. Dengan kemapuan tersebut seseorang bisa mengutarakan keinginannya, mampu menyampaikan perkataan yang benar dan mampu beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Orang yang tidak diberi nikmat mampu berbicara, jelas dia tidak akan mampu melakukan hal di atas. Dia hanya bisa mengutarakan sesuatu dan memahamkan orang dengan isyarat atau dengan cara menulis, jika dia mampu menulis. Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang lelaki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban bagi penanggungnya, kemana saja dia suruh oleh penanggungnya itu dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan yang berada di atas jalan yang lurus?” [An-Nahl : 76]</p>
<p>Tentang tafsir ayat ini, ada yang mengatakan bahwasanya Allah memberikan permisalan perbandingan antara diriNya dengan berhala yang disembah. Adapula yang mengatakan bahwa Allah memberi permisalan antara orang kafir dan orang yang beriman. Imam Qurthubi menjelaskan dalam kitab Tafsirnya (IV/149), “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa penjelasan-penjelasan tersebut semuanya baik, karena telah mencakup”.</p>
<p>Permisalan di atas secara jelas menerangkan kekurangan seorang budak bisu yang tidak mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Pemiliknya pun tidak mampu mengambil manfaat kapan dia membutuhkannya. Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Artinya : Demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan” [Adz-Dzariyat : 23]</p>
<p>Allah bersumpah dengan diriNya akan pastinya kedatangan hari kebangkitan dan pembalasan amal manusia, sebagaimana pastinya ucapan yang menjadi perwujudan dari orang yang berbicara. Pada ayat tersebut Allah memaparkan sebagian karuniaNya yang berupa ucapan,</p>
<p>Allah Ta’ala juga berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dia menciptakan manusia, dan mengajarinya berbicara” [Ar-Rahman : 2-3]</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan bahwa al-bayan (penjelasan) adalah berbicara. Jadi, Allah menyebutkan nikmat berbicara ini, karena dengan berbicara manusia bisa mengutarakan apa yang diinginkannya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Artinya : Bukannkah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir?” [Al-Balad : 8-9]</p>
<p>Dalam kitab Tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan, “Firman Allah : (Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata), maksudnya dengan kedua mata tersebut dia mampu melihat. Dan lidah, yaitu dengan lidahnya dia mampu berbicara ; mampu mengungkapkan apa yang tersimpan dalam hatinya. Dan kedua bibirnya, yaitu dengan bibirnya dia dapat mengucapkan sebuah perkataan, atau memakan makanan ; juga sebagai penghias wajah dan mulutnya”.</p>
<p>Akan tetapi, kita tahu bahwa nikmat berbicara ini akan menjadi kenikmatan yang hakiki apabila digunakan untuk membicarakan hal-hal yang baik. Apabila digunakan untuk perkara yang jelek, maka hal itu justru akan menjadi musibah bagi pemiliknya. Dalam keadaan seperti itu, maka orang yang tidak diberi nikmat berbicara lebih baik keadaannya dibandingkan dengan orang yang menggunakan nikmat ini dalam perkara yang jelek.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">PENDAHULUAN : RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Segala puji hanya milik Allah, yang telah mempersatukan hati orang-orang beriman, yang mendorong mereka untuk berkumpul dan bersatu, serta memperingatkan mereka dari perpecahan dan perselisihan. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, yang menciptakan dan menentukan, menetapkan syari’at dan memudahkannya. Allah Maha Penyayang terhadap hama-hambaNya yang beriman. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, yang memerintahkan untuk memberikan kemudahan dan kabar gembira. Beliau bersabda.</p>
<p>“Artinya : Mudahkanlah dan jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari”</p>
<p>Semoga shalawat, salam dan keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau yang disucikan, serta para sahabat beliau yang disebutkan oleh Allah sebagai orang-orang keras terhadap orang-orang kafir dan amat lemah lembut terhadap sesama mereka. Semoga shalawat, salam, dan keberkahan tadi juga tercurah kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan benar sampai hari kiamat.</p>
<p>Ya Allah berilah aku petunjuk, dan tunjukkanlah (kebenaran) padaku serta jadikanlah aku sebagai sebab bagi orang lain untuk mendapatkan petunjuk.</p>
<p>Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari rasa dengki dan luruskanlah lisanku dalam menyampaikan kebenaran.</p>
<p>Ya Allah, aku berlindung kepadaMu agar tidak menjadi orang yang menyesatkan atau disesatkan, orang yang menggelincirkan atau yang digelincirkan, orang yang mendzalimi atau didzalimi, membodohi atau dibodohi.</p>
<p>Amma ba’du.</p>
<p>Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka menisbatkan (menyandarkan) diri kepada Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berpegang teguh kepada Sunnahnya.</p>
<p>Beliau bersabda.</p>
<p>“Artinya : Wajib bagi kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah sesudahku yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian dengan Sunnah tersebut, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian”</p>
<p>Beliau juga telah memperingatkan kita agar tidak menyelisihi sunnah beliau. Dalam hal ini beliau bersabda.</p>
<p>“Artinya : Hati-hatilah kalian terhadap segala perkara yang baru (dalam masalah agama), karena setiap perkara yang baru seperti itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”</p>
<p>Dalam hadits yang lain beliau bersabda.</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku”</p>
<p>Keadaan Ahlus Sunnah ini berbeda dengan kelompok lainnya, yaitu kalangan para pengikut hawa nafsu dan para pelaku bid’ah. Para pengikut hawa nafsu dan para pelaku bid’ah menempuh jalan yang tidak ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.</p>
<p>Akidah Ahlus Sunnah tampak sejak Nabi diangkat menjadi rasul dan selama beliau masih hidup, sedangkan akidah ahli hawa (para pengikut hawa nafsu) muncul setelah beliau wafat. Ada yang muncul pada akhir generasi sahabat; ada yang muncul setelah generasi sahabat.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitakan kepada para sahabat beliau bahwa barangsiapa di antara mereka berumur panjang niscaya akan menjumpai perpecahan dan perselisihan. Rasulullah bersabda.</p>
<p>“Artinya : Dan sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang berumur panjang maka dia akan melihat perselisihan”</p>
<p>Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi tuntunan kepada mereka untuk menempuh jalan yang lurus, yaitu dengan mengikuti sunnah beliau dan sunnah para Khalifahnya yang mendapatkan petunjuk (Khulafa’ Ar-Rasyidah). Rasulullah juga telah memperingtkan kita agar menjauhi perkara-perkara yang baru dalam agama, dan memberitahukan bahwa semua itu adalah sesat.</p>
<p>Suatu hal yang sangat tidak masuk akal bila para sahabat tidak mengetahui kebenaran dan petunjuk (dengan jelas dan gamblang) sementara orang-orang yang datang setelah mereka lebih mengetahui kebenaran dan petunjuk. Sesungguhnya bid’ah yang diada-adakan orang-orang setelah generasi sahabat itu tidak lain dalah keburukan. Seandainya bid’ah yang mereka ada-adakan itu lebih baik, niscaya para sahabat akan melakukannya terlebih dahulu.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir &amp; Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, hal 7-16, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">PENDAHULUAN : RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Bid’ah adalah keburukan yang menimpa banyak orang yang datang setelah para sahabat. Mereka adalah orang-orang yang melakukan penyimpangan terhadap apa-apa yang dilakukan dan dipegangi oleh para sahabat Radhiyallahu anhu. Imam Malik berkata.</p>
<p>“Artinya : Umat ini tidak akan baik kecuali dengan hal-hal yang telah menyebabkan baik generasi awalnya”</p>
<p>Oleh karena itu, Ahlus Sunnah selalu menyandarkan dirinya kepada sunnah. Adapun selain Ahlus Sunnah, seperti kelompok Jabariyah, Qadariyah, Murji’ah dan Al-Imamiyah Itsna ‘Asyaariyah, mereka menyandarkan diri kepada prinsip mereka yang batil, atau menyandarkan diri kepada prinsip mereka yang batil, atau menyandarkan kepada tokoh-tokoh mereka, seperti kelompok Jahmiyah, Zaidiyah, Asy’ariyah, dan Ibadiyah.</p>
<p>Dalam hal ini, tidak bisa Ahlus Sunnah dikatakan sebagai Wahabiyah, yaitu dinisbatkan kepada Syaikh Muhamamad bin Abdul Wahhab Rahimahullah. Hal ini karena Ahlus Sunnah tidak pernah menyandarkan diri kepada beliau baik ketika belaiu masih hidup maupun setelah wafatnya. Syaikh Muhamamd bin Adbul Wahhab sendiri tidak pernah mengajarkan sesuatu yang baru untuk kemudian ajaran tersebut dinisbatkan kepada dirinya. Bahkan sebaliknya, beliau adalah orang yang teguh mengikuti jalan para Salafush Shalih, menampakkan, menyebarkan dan mengajak orang-orang untuk berpegang teguh dengan Sunnah.</p>
<p>Memang ada sementara orang yang menyebut Ahlus Sunnah sebagai aliran wahabi. Pemberian gelaran ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka dan dengki atas gencarnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah. Gelaran seperti ini sengaja dihembuskan agar orang-orang ragu mengikuti kebenaran dan petunjuk yang diajarkan beliau. Gelaran seperti itu juga digunakan agar orang-orang tetap tenggelam dalam bid’ah yang mereka ada-adakan, tindakan yang menyelisihi prinsip Ahlus Sunnah.</p>
<p>Imam Syahtibi berkata dalam kitab Al-I’tisham (I/79), “Abdurrahman Al-Mahdi berkata, ‘Malik bin Anas pernah ditanya tentang Ahlus Sunnah.’ Beliau menjawab, ‘Dia adalah nama yang tidak mempunyai sandaran selain As-Sunnah. Kemudian beliau membaca firman Allah.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus. Oleh karena itu, ikutilah jalan tersebut ! Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalanNya” [Al-An’am : 153]</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata dalam kitab Madarijus Salikin (III/179), “Pernah sebagai Imam (Ulama terkemuka) kaum muslimin ditanya tentang sunnah. Mereka menjawab, ‘As-Sunnah adalah nama yang tidak mempunyai sandaran melainkan As-Sunnah itu sendiri.’ Maksudnya bahwa Ahlus Sunnah tidak mempunyai nama yang dijadikan penisbatan selain As-Sunnah”.</p>
<p>Dalam kitab Al-Intiqa (hal.35) karya Ibnu Abdil Barr disebutkan bahwa pernah ada seseorang bertanya kepada Imam Malik. Orang tersebut bertanya, ‘Siapakah Ahlus Sunnah ?’. Beliau menjawab, “Ahlus Sunnah adalah orang yang tidak mempunyai julukan tertentu untuk mengenali diri mereka. Mereka bukanlah jahmi, tidak pula qadari, juga bukan rafidhi”.</p>
<p>Tidak diragukan lagi, menjadi kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan di setiap tempat untuk saling bersatu dan saling berkasih sayang di antara mereka, serta saling menolong dalam perkara kebaikan dan takwa.</p>
<p>Akan tetapi, sungguh amat disayangkan, sekarang ini banyak muncul pertentangan dan perpecahan di kalangan Ahlus Sunnah. Sebagian dari mereka sibuk mencela saudaranya sesama Ahlus Sunnah, memprovokasi orang-orang untuk menjauhi, dan terkadang melakukan tindakan boikot terhadapnya. Padahal sikap seperti itu semestinya dialamatkan kepada orang-orang yang bukan Ahlus Sunnah, yaitu kepada orang-orang kafir dan ahli bid’ah yang memusuhi Ahlus Sunnah. Adapun sesama Ahlus Sunnah hendaknya ditumbuhkan sikap saling lemah lembut dan saling berkasih sayang. Kalau umpanya suatu ketika mereka perlu mengingatkan saudaranya yang salah, itupun hendaknya dilakukan dengan cara yang halus dan lembut.</p>
<p>Memperhatikan keadaan yang seperti itu, saya memandang perlu menulis beberapa nasehat untuk mereka. Saya memohon keapda Allah Ta’ala semoga Dia berkenan memberikan manfaat dari kalimat-kalimat yang akan saya sampaikan ini.</p>
<p>Dengan tulisan ini saya tidak lain hanyalah bermaksud mengadakan perbaikan semampu saya. Dan tulisan ini hanya akan membawa manfaat bila mendapat taufik dari Allah Ta’ala. Hanya kepada Allah saya bertawakkal dan hanya kepadaNya-lah saya kembali. Selanjutnya, kitab ini saya beri judul :</p>
<p>RIFQAN AHLUSSUNNAH BI AHLISSUNNAH<br />
[Lemah Lembut Sesama Ahlus Sunnah]</p>
<p>Saya bermohon semoga Allah memberi taufik dan keteguhan kepada saya, juga kepada semuanya, serta memperbaiki hubungan mereka, mempertautkan hati mereka, menunjuki mereka jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do’a.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir &amp; Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, hal 7-16, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">PENUTUP KITAB : RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr</p>
<p>Sebagai penutup, saya wasiatkan kepada para penuntut ilmu semua agar bersyukur kepada Allah, karena atas taufikNya semata mereka bisa menjadi seorang penuntut ilmu. Oleh karena itu, hendaknya mereka senantiasa menjaga keikhlasan dalam menuntut ilmu dan mau mengorbankan segala yang berharga, termasuk jiwa-raganya, dalam rangka mendapatkan ilmu tersebut. Hendaknya mereka memanfaatkan waktunya untuk menyibukkan diri dengan kegiatan keilmuan, karena ilmu tidak bisa didapatkan dengan berangan-angan atau tenggelam dalam kemalasan dan keterlenaan. Yahya bin Abu Katsir Al-Yamani berkata, “Ilmu tidak akan didapatkan dengan bersantai-santai” [1]</p>
<p>Sungguh banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang menerangkan keutamaan ilmu dan orang yang memilikinya. Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p>“Artinya : Allah dan para malaikat serta orang-orang yang berilmu menyatakan (bersaksi) bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia (Allah)” [Ali-Imran : 18</p>
<p>Allah Ta’ala juga berfirman.</p>
<p>“Artinya : Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” [Az-Zumar : 10]</p>
<p>Allah Ta’ala juga berfirman.</p>
<p>“Artinya : Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat” [Al-Mujadalah : 11]</p>
<p>Allah Ta’ala juga berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan katakanlah : Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmuku” [Thaha : 114]</p>
<p>Hadits-hadits tentang masalah itu di antaranya adalah sabda Rasulullah.</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah akan memberi kefahaman kepadanya dalam masalah agama” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no.71 dan Muslim no. 1037]</p>
<p>Hadit ini menunjukkan tentang tanda-tanda Allah hendak memberikan kebaikan pada seorang hamba yaitu dengan memberikan pemahaman dalam masalah agama. Hal itu karena dengan paham tentang masalah agama, maka dirinya akan menyembah Allah dengan ilmu dan juga akan menyeru orang lain dengan ilmu juga.</p>
<p>Rasulullah juga bersabda.</p>
<p>“Artinya : Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5027]</p>
<p>Beliau juga bersabda.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebuah kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini pula” [Hadits Riwayat Muslim no. 817]</p>
<p>Beliau juga bersabda.</p>
<p>“Artinya : Semoga Allah membaguskan seseorang yang mendengar perkataanku kemudian menghafalnya dan menyampaikannya seperti yang ia dengar” [2]</p>
<p>Nabi juga bersabda.</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memasukkan orang tersebut pada salah satu jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat mengatupkan sayapanya karena ridha kepada seluruh penuntut ilmu. Penghuni langit dan bumi, sampai ikan sekalipun yang ada di dalam air memohonkan ampun untuk seorang alim. Keutamaan seorang alim dibandingkan seorang ahli ibadah seperti keutamaan cahaya bulan purnama dibandingkan cahaya bintang-bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, namun mereka tidak mewariskan dinar maupun dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut sungguh ia telah mendapatkan bagian yang banyak dari warisan tersebut” [3]</p>
<p>Beliau juga bersada.</p>
<p>“Artinya : Apabila seorang manusia meninggal maka terputuslah pahala segala amalannya kecuali dari tiga perkara ; yaitu sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akannya” [Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 1631]</p>
<p>Beliau juga bersabda.</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa sebanyak dosa orang yang mengikutinya itu tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka” [Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 2674]</p>
<p>Pada kesempatan ini, saya wasiatkan pula kepada siapa saja agar mengisi waktu dan umurnya dengan hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi manusia. Nabi bersabda.</p>
<p>“Artinya : Ada dua kenikmatan yang banyak menipu manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang” [4]</p>
<p>Saya wasiatkan juga kepada semuanya saja agar senantiasa meny.0ibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat dan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, karena Rasulullah bersabda.</p>
<p>“Artinya : Diantara indikasi baiknya ke-islaman seseorang adalah mau meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya” [5]</p>
<p>Saya juga berwasiat agar kalian berlaku adil dan bersikap tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan dan juga tidak meremeh-remehkan, karena Nabi bersabda.</p>
<p>“Artinya : Berhati-hati kalian terhadap sikap berlebih-lebihan dalam agama : Ketahuilah, orang-orang sebelum kalian binasa karena sikap berlebih-lebihan dalam agama” [6]</p>
<p>Saya juga berwasiat agar kalian waspada terhadap perbuatan zhalim, karena ada larangan yang terdapat dalam hadits Qudsi.</p>
<p>“Artinya : Wahai para hambaku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diriKu, dan Aku telah menjadikan sikap zalim sebagai sesuatu yang diharamkan untuk kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian saling menzalimi” [Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim no. 2577]</p>
<p>Dan sabda Rasulullah.</p>
<p>“Artinya : Takutilah oleh kalian kezaliman ; sesungguhnya kezaliman membawa kegelapan pada hari kiamat” [Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim no. 2578]</p>
<p>Saya memohon kepada Allah Allah Ta’ala semoga berkenan memberikan taufiqNya kepada kita semua untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan beramal dengannya, serta mendakwahkannya dengan keterangan yang jelas.</p>
<p>Semoga Allah mengumpulkan kita semua dalam kebenaran dan petunjuk, dan menyelamatkan kita semuanya dari berbagai bencana, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Allah Maha Penolong dalam hal tersebut dan Mahakuasa.</p>
<p>Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba dan RasulNya, Nabi kita, Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kemudian. Amin</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1] Hadits ini adalah shahih mutawatir. Lebih dari dua puluh orang shahabat meriwayatkan hadits ini. Hadits ini saya sebutkan dalam kitabku yang berjudul Dirasah Hadits Nadhdharallahu Imra’an Sami’a Maqalati Riwayah Wa Dirayah.<br />
[2] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud no. 3628 dan lainnya. Lihat takhrijnya dalam kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 70, dan Ta’liq Musnad Imam Ahmad no. 21715. Ibnu Rajab memberikan penjelasan tentang hadits ini dalam bahasan tersendiri. Potongan pertama dari hadits tersebut terdapat dalam Kitab Shahih Muslim no. 2699<br />
[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6412. Hadits ini adalah hadits pertama yang disebutkannya dalam kitab Ar-Riqaq. Al-Bukhari juga menyebutkan dalam kitab tersebut sebuah atsar dari Ali bin Abi </font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">SIKAP AHLUSSUNNAH TERHADAP KESALAHAN ULAMA</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Pertama dari Tiga Tulisan [1/3]</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Sepeninggal Rasulullah tidak ada seorangpun yang ma’sum (terbebas dari kesalahan). Begitu pula orang alim ; dia pun tidak akan lepas dari kesalahan. Seseorang yang terjatuh dalam kesalahan, janganlah kesalahannya itu digunakan untuk menjatuhkan dirinya. Dan tidak boleh kesalahannya itu menjadi sarana untuk membuka kejelekannya yang lain dan melakukan tahdzir [1] terhadapnya. Seharusnya kesalahannya yang sedikit itu dima’afkan dengan banyaknya kebenaran yang dia miliki. Apabila ada ulama yang telah meninggal ternyata salah pendapatnya, maka hendaknya kita tetap memanfaatkan ilmunya, tetapi jangan mengikuti pendapatnya yang salah, dan tetap mendo’akan serta mengharap kepada Allah agar mencurahkan rahmat kepadanya. Adapun bila orang yang pendapatnya salah itu masih hidup, apakah dia seorang ulama atau sekedar penuntut ilmu, maka kita ingatkan kesalahannya itu dengan lembut dengan harapan dia bisa mengetahui kesalahannya sehingga dia kembali kepada kebenaran.</p>
<p>Ulama yang telah wafat yang memiliki kesalah dalam masalah akidah adalah Al-Baihaqi, An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani. Meskipun demikian, ulama dan para penuntut ilmu tetap memanfaatkan ilmunya. Bahkan, karya-karyanya menjadi rujukan penting bagi orang-orang yang bergelut dalam bidang ilmu-ilmu agama.</p>
<p>Tentang Al-Baihaqi, Adz-Dzahabi memberi komentar dalam kitab As-Siyar (XVIII/163 dan seterusnya), Adz-Dzahabi berkata, “Beliau adalah seorang penghafal hadits, sangat tinggi ilmunya, teguh pendirian, ahli hukum dan tuan guru umat Islam”.</p>
<p>Adz-Dzahabi menambahkan, “Beliau adalah orang diberkahi ilmunya, dan mempunyai karya-karya yang bermanfaat”. Ditambahkan pula, “Beliau pergi ke luar dari negerinya dalam rangka mengumpulkan hadits dan membuat karya tulis. Beliau mengarang kitab As-Sunan Al-Kubra dalam sepuluh jilid. Tidak ada orang yang menandingi beliau”.</p>
<p>Adz-Dzahabi juga menyebutkan bahwa Al-Baihaqi memiliki karya-karya tulisan lainnya yang sangat banyak. Kitabnya As-Sunan Al-Kubra telah dicetak dalam sepuluh jilid tebal. Dia menukil perkataan Al-Hafizh Abdul Ghafir bin Ismail tentang Al-Baihaqi. Katanya , “Karya-karya beliau hampir mencapai seribu juz (jilid). Suatu prestasi yang belum ada serorangpun yang menandingi. Beliau membuat metode penggabungan ilmu hadits dan fikih, penjelasan tentang sebab-sebab cacatnya sebuah hadits, serta cara menggabungkan antara hadits yang terlihat saling bertentangan”.</p>
<p>Imam Adz-Dzahabi juga berkata, “Karya-karya Al-Baihaqi sangat besar nilainya, sangat luas fedahnya. Amat sedikit orang yang mampu mempunyai karya tulis seperti beliau. Sudah selayaknya para ulama memperhatikan karya-karya beliau, terutama kitabnya yang berjudul As-Sunan Al-Kubra”.</p>
<p>Adapun tentang An-Nawawi, Adz-Dzahabi mengomentarinya dalam kitab Tadzkirah Al-Huffaz (IV/259). Adz-Dzahabi berkata, “Beliau adalah seorang imam, penghafal hadits yang ulung, teladan bagi ummat, tuan guru umat Islam, dan penghulu para wali. Beliau memiliki karya-karya yang bermanfaat”.</p>
<p>Ditambahkan pula, “Beliau juga seorang yang bersungguh-sungguh dalam memegang teguh agamanya, sangat menjaga sifat wara’ dan sangat berhati-hati sampai pada perkara yang remeh sekalipun, selalu membersihkan jiwa dari noda dan kotoran. Beliau adalah seorang penghapal hadits dan ahli dalam segala cabang-cabang ilmu hadits ; ilmu tentang periwayatan hadits, ilmu untuk mengetahui hadits yang shahih dan yang dha’f ; begitu juga ilmu tentang cacat-cacat hadits. Beliau juga seorang tokoh terkemuka yang mengetahui madzhab (Syafi’i)”.</p>
<p>Ibnu Katsir mengatakan dalam Al-Bidayah Wa An-Nihayah (XVII/540), “Kemudian beliau memfokuskan perhatian kepada tulis menulis. Banyak karya tulis yang telah dibuat beliau. Karya-karya beliau ada yang sudah selesai dan utuh, namun ada pula yan belum. Karya-karya beliau yang sudah selesai dan utuh diantaranya : Syarah Musli, Ar-Raudah, Al-Minhaj, Riyadush Shalihin, Al-Adzkar, At-Tibyan, Tahrir At-Tanbih wa Tashhihih, Tahdzib Al-Asma’ wa Al-Lughat, Thabaqat Al-Fuqaha dan yang lain-lain. Adapun kitab-kitab beliau yang belum selesai penulisannya di antaranya adalah kitab Syarah Al-Muhadzdzab yang dinamakan Al-Majmu’. Kitab ini seandainya bisa beliau selesaikan niscaya menjadi kitab yang tiada bandingnya. Pembasahan kitab ini baru sampai pada bab riba. Beliau menulis kitab tersebut dengan sangat baik. Dibahasnya di kitab tersebut masalah fikih yang ada dalam madzhabnya maupun yang di luar madzhabnya. Beliau juga membahas hadits-hadits sebagaimana mestinya ; diterangkan di situ kata-kata yang sulit (asing), tinjauan-tinjauan bahasa, serta berbagai hal penting lainnya yang tidak ditemukan dalam kitab lainnya. Belum pernah saya menemukan pembahasan kitab fiqih sebagus kitab tersebut, sekalipun kitab tersebut masih perlu banyak penambahan dan penyempurnaan”.</p>
<p>Walaupun karya-karya beliau sangat banyak, namun umur beliau cukup muda. Beliau hidup hanya sampai umur empat puluh lima tahun. Beliau lahir pada tahun 631H dan wafat pada tahun 676H.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, hal 51-68, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1] Peringatan kepada khalayak agar menjauhi seseorang. Biasanya dengan mebeberkan aib dan kesalahan orang tersebut. –pent.</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">SIKAP AHLUSSUNNAH TERHADAP KESALAHAN ULAMA</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Adapun Ibnu Hajar Al-Asqalani, beliau adalah seorang imam yang masyhur dengan karya-karyanya yang banyak. Karya beliau yang terpenting adalah kitab Fathul Bari yang merupakan kitab syarah (penjelasan) dari kitab Shahih Al-Bukhari. Kitab tersebut menjadi kitab rujukan yang penting bagi para ulama. Kitab-kitab beliau yang lain adalah Al-Ishabah, Tahdzib At Tahdzib, Taqrib At Tahdzib, Lisan Al Mizan, Ta’jil Al Manfa’ah, Bulughul Maram, dan lain-lain.</p>
<p>Di antara ulama dewasa ini (yang tergelincir dalam kesalahan) adalah Syaikh Al’Alamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani ; Beliau adalah seorang pakar hadits. Tak ada seorang pun yang menandingi beliau dalam hal perhatiannya terhadap ilmu hadits. Beliau terjatuh dalam kesalahan dalam beberapa perkara menurut kebanyakan ulama. Di antara kesalahan beliau adalah pendapatnya dalam masalah hijab. Beliau berpendapat bahwa menutup wajah bagi wanita bukanlah sauatu kewajiban, tetapi sunnah saja. Dalam perkara ini, kalau pun yang beliau katakana benar, akan tetapi kebenaran tersebut dikatagorikan sebagai kebenaran yang selayaknya disembunyikan [1], karena akibatnya akan banyaka wanita yang meremehkan masalah menutup wajah. Begitu pula perkataan beliau dalam kitab Shifat Shalat Nabi, “Sesungguhnya meletakkan kedua tangan di atas dada pada saat I’tidal (berdiris setelah bangkit dari ruku’) adalah termasuk bid’ah yang sesat”, padahal masalah tersebut termasuk permasalahan yang diperselisihkan. Begitu pula perkataan yang beliau sebutkan dalam kitab Silsilah Adh-Dhaifah hadits no. 2355 bahwa tidak memotong jenggot yang melebihi satu genggaman adalah termasuk bid’ah idhafiyah. Begitu pula pendapat beliau yang mengharamkan emas melingkar bagi seorang wanita [2].</p>
<p>Akan tetapi, meskipun saya meningkari beberapa pendapat beliau di atas, sya begitu juga yang lainnya, tetap mengambil buku-buku beliau sebagai rujukan. Alangkah bagusnya perkataan Imam Malik, “Semua orang bisa diambil atau ditolak ucpannya kecuali pemilik kubur ini” Beliau mengisyaratkan ke kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Penjelasan di atas memberikan gambaran bagaimana para ulama memberikan maaf (toleransi) kepada ulama lain yang terjatuh dalam kesalahan. Pemberian ma’af tersebut mereka berikan karena banyak kebenaran yang dimiliki ulama tersebut.</p>
<p>Sa’id bin Al-Musayyab (wafat 93H) berkata, “Seorang ulama, orang yang mulia, atau orang yang memiliki keutamaan tidak akan luput dari kesalahan. Akan tetapi, barangsiapa yang keutamaannya lebih banyak dari kekurangannya, maka kekurangannya itu akan tertutup oleh keutamaannya. Sebaliknya, orang yang kekurangannya mendominasi, maka keutamaannya pun akan tertutupi oleh kesalahannya itu”</p>
<p>Para salaf yang lain berkata, “Tidak ada seorangpun ulama yang terbebas dari kesalahan. Barangsiapa yang sedikit salahnya dan banyak benarnya maka dia adalah seorang ‘alim. Dan barangsiapa yang salahnya lebih banyak dari benarnya maka dia adalah orang yang jahil (bodoh)” [Lihat Jami’ Bayan Fadhli Al-Ilmi karya Ibnu Abdil Barr (II/48).</p>
<p>Abdullah bin Al Mubaraak (wafat 181H) berkata,”Apabila kebaikan seorang lebih menonjol daripada kejelekannya maka kejelekannya tidak perlu disebutkan. Sebaliknya, apabila kejelekan seseorang lebih menonjol daripada kebaikannya maka kebaikannya tidak perlu disebutkan” [Lihat kitab Siyar ‘Alam An Nubala karya Adz-Dzahabi VIII/352 cetakan pertama]</p>
<p>Imam Ahmad (wafat 241H) berkata, “Tidak ada seorangpun yang melewati jembatan (keluar) dari Khirasan seperti Ishak bin Ruhawaih, meskipun beliau berselisih dengan kami dalam banyak hal. Manusia memang akan senantiasa saling berbeda pendapat” [Lihat kitab Siyar A’lam An-Nubala’ XI/371]</p>
<p>Abu Hatim ibnu Hibban (wafat 354H) berkata, “Abdul Malik –yaitu anak dari Abu Sulaiman- adalah termasuk penduduk Kuffah yang terbaik dan termasuk seorang penghafal hadits. Akan tetapi, orang-orang yang menghafal dan meriwayatkan hadits darinya biasanya akan salah. Termasuk tindakan yang tidak adil meninggalkan seluruh hadits dari seorang syaikh yang kokoh hapalannya dan telah jelas kejujurannya, hanya dikarenakan beberapa kesalahannya dalam meriwayatkan hadits. Kalau kita menempuh cara seperti ini, maka konsekwensinya adalah kita akan meninggalkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Az-Zuhri, Ibnu Juraij, Ats Tsauri, dan Syu’bah. Hal ini karena meskipun mereka adalah para penghafal hadits yang kokoh hapalannya, yang meriwayatkan hadits dari hafalan mereka, akan tetapi mereka bukanlah orang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) sehingga maungkin saja mereka terjatuh dalam kesalahan. Jadi, tindakan yang tepat adalah bahwa seorang yang kuat hafalannya (selagi periwayatannya benar) kita terima riwayatnya dan kalau periwayatannya salah kita tinggalkan. Ini apabila secara keseluruhan kesalahan mereka tidak mendominasi. Apabila kesalahan mereka lebih mendominasi, maka dalam keadaan seperti itu periwayatan mereka kita tinggalkan” [Lihat kitab Ats Tsiqat VII/97-98]</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728H) berkata, “perlu diketahui bahwa kelompok-kelompok yang menisbatkan kepada figure-figur tertentu dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama) dan juga kelompok ahli kalam, mereka terdiri dari beberapa tingkatan. Di antara mereka ada yang menyelisihi sunnah pada masalah yang sangat prinsipil dan ada juga yang menyelisihi sunnah pada persoalan samar (sulit diketahui benar tidaknya).</p>
<p>Bila ada dari mereka yang membantah kebatilan kelompok lainnya yang lebih menyimpang dari sunnah, maka kita puji bantahan mereka dan kebenaran yang mereka ucapkan. Akan tetapi, sayang, terkadang mereka melampui batas dalam menyampaikan bantahan tersebut. Terkadang dalam bantahan tersebut mereka menyalahi kebenaran dan mengatakan hal-hal yang batil. Terkadang mereka membantah bid’ah yang besar dengan bid’ah yang lebih ringan ; membantah kebatilan dengan kebatilan yang lebih ringan. Ini sering kita jumpai di kalangan ahli kalam yang menisbatkan diri mereka kepada Ahlussunnah wal Jama’ah.</p>
<p>Orang-orang seperti mereka itu, meskipun perbuatan bid’ahnya tidak membuat mereka keluar dari jama’ah kaum muslimin, tetapi karena bid’ah tersebut mereka jadikan dasar saling loyal dan saling memusuhi, maka tetap saja perkara tersebut dianggap sebagai suatu kesalahan. Akan tetapi, Allah mengampuni orang-orang mu’min yang melakukan kesalahan seperti ini.</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, hal 51-68, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1] Sebagai bandingan, dalam kitabnya yang berjudul Jilbab Mar&#8217;ah Muslimah Penerbit Dar As-Salam Tahun 2002 pada halaman 27. Syaikh Al-Bani membantah orang-orang yang berpendapat seperti itu. Beliau mengatakan bahwa hokum syar&#8217;i yang telah ditetapkan dalam Al-Qur&#8217;an dan Sunnah tidak boleh disembunyikan dengan alasan nanti akan terjadi kerusakan zaman atau alasan lainnya. Beliau tunjukkan di sana dalil-dalil yang mendasarinya. –ed.<br />
[2] Sebagai perbnadingan dalam kitab Adab Az-Zifaf Penerbita Dar As-Salam cetakan Pertama halaman 222 dst, Syaikh Al-Abani mengharamkan wanita memakai perhiasan emas melingkar dan membantah orang-orang yang menghalalkannya. –ed.</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">SIKAP AHLUSSUNNAH TERHADAP KESALAHAN ULAMA</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr<br />
Bagian Terkahir dari Tiga Tulisan [3/3]</p>
<p>RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp; HAJR]</p>
<p>Banyak para Salaf dan para imam yang terjatuh pada kesalahan yang semacam itu. Mereka lontarkan perkataan-perkataan berdasarkan ijtihad mereka yang ternayat bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Akan tetapi, tindakan para Salaf tadi berbeda dengan orang-orang yang mau loyal terhadap orang-orang yang menyetujui pendapatnya, sementara memusuhi orang-orang yang menyelisihi pendapatnya, serta memecah belah jama’ah kaum muslimin, mengkafirkan dan memberi cap fasiq ; bahkan menghalalkan jiwa orang-orang yang menyelisihi mereka dalam perkara-perkara yang didasarkan pada pendapat dan ijtihad.Mereka ini adalah kelompok yang suka memecah belah dan senang bertengkar” [Lihat kitab Majmu ‘Al-Fatawa III/348-349]</p>
<p>Beliau berkata pada halaman lain (XIX/191-192) , “Banyak para ulama ahli ijtihad yang Salaf maupun khalaf, mereka mengatakan sebuah perkataan atau melakukan perbuatan yang termasuk kebid’ahan sementara mereka tidak mengetahui bahwa perkara tersebut adalah bid’ah. Hal itu dikarenakan beberapa sebab, di antaranya karena mereka menetapkan shahih sebuah hadits padahal dha’if, atau dikarenakan pemahaman yang salah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Ada kalanya hal itu juga dikarenakan mereka ijtihad dalam sebuah masalah, padahal dalil-dalil yang menjelaskannya,namun dall-dalil tersebut belum sampai kepada mereka. Apabila tindakan mereka itu masih dalam rangka melakukan ketakwaan kepada Allah semampu mereka, maka mereka termasuk dalam firman Allah Ta’ala.</p>
<p>“Artinya : Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kamu tersalah” [Al-Baqarah : 286]</p>
<p>Dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa Allah menjawab, “Sungguh, telah Aku lakukan”.</p>
<p>Adz-Dzahabi (wafat 748H) mengatakan, “Sesungguhnya seorang ulama besar, apabila kebenarannya lebih banyak, dan diketahui bahwa dirinya adalah pencari kebenaran, luas ilmunya, tampak kecerdasannya, dikenal kepribadiannya yang shalih, wara’ dan berusaha mengikuti sunnah maka kesalahannya dimaafkan. Kita tidak boleh mencap sesat, tidak boleh meninggalkannya, dan melupakan kebaikannya. Memang benar, kita tidak boleh mengikuti bid’ah dan kesalahannya. Kita do’akan semoga dia bertaubat dari perkara itu. [Lihat Siyar A’lam An-Nubala V/271]</p>
<p>Beliau menambahkan, “Kalau setiap kali seorang ulama (kaum muslimin) salah berijtihad dalam suatu permasalahan yang bisa dimaaflkan kita bid’ahkan dan kita jauhi, maka tidak ada seorang pun yang selamat, apakah itu Ibnu Nashr, Ibnu Mandah, atau orang yang lebih hebat dari keduanya sekalipun. Allah yang memberi petunjuk kebenaran kepada makhlukNya, dan Dia adalah dzat Yang Maha Penyayang. Kami berlindung kepada Allah dari hawa nafsu dan perangai yang kasar” [Lihat Siyar A’lam An-Nubala XIV/39-40]</p>
<p>Beliau juga berkata, “Kalau setiap orang-orang yang salah berijtihad kita tahdzir dan kita bid’ahkan, padahal kita mengetahui bahwa dia memiliki iman yang benar dan berusaha keras mengikuti kebenaran, maka amat sedikit ulama yang selamat dari tindakan kita. Semoga Allah merahmati semuanya dengan karunia dan kemuliaanNya” [Lihat Siyar A’lam An-Nubala XIV/376]</p>
<p>Beliau menambahkan, “Kami mencintai sunnah dan para pengikutnya. Kami mencintai ulama dikarenakan sikap mereka yang berusaha mengikuti sunnah dan juga sifat-sifat terpuji yang mereka miliki. Sebaliknya, kami membenci perkara-perkara bid’ah yang dilakukan ulama yang biasanya dihasilkan dari penakwilan-penakwilan. Sesungguhnya yang menjadi parameter adalah banyaknya kebaikan yang dimiliki” [Lihat Siyar A’lam An-Nubala XX/46]</p>
<p>Ibnul Qayyim (wafat 751H) berkata, “Mengenal keutamaan, kedudukan, hak-hak dan derajat para ulama Islam, dan mengetahui bahwa keutamaan mereka, ilmu mereka miliki, dan keikhlasan yang mereka lakukan semata-mata karena Allah dan Rasulullah, tidak mengharuskan kita menerima seluruh perkataan mereka. Begitu juga, apabila ada fatwa-fatwa mereka tentang permasalahan yang belum mereka ketahui dalil-dalinya, kemudian mereka berijtihad sesuai dengan ilmu yang mereka miliki, dan ternyata salah, maka hal itu tidak mengharuskan kita membuang seluruh perkataan mereka atau mengurangi rasa hormat kita, atau bahkan mencela mereka. Dua sikap diatas menyimpang dari sikap yang adil. Sikap yang adil adalah tengah-tengah di antara kedua sikap tersebut. Kita tidak boleh menganggap seseorang selalu dalam kesalahan dan juga tidak boleh menganggapnya sebagai orang yang maksum (terbebas dari kesalahan)”</p>
<p>Dia menambahkan, “Barangsiapa yang memiliki ilmu tentang syari’at dan kondisi riil masyarakat, maka dia akan mengetahui secara pasti bahwa seseorang yang terhormat serta memiliki perjuangan dan usaha-usaha yang baik untuk Islam, bahkan mungkin seorang yang disegani di tengah-tengah umat Islam, bisa saja melakukan kekeliruan dan kesalahan yang bisa ditolerir, yang malah mendapatkan pahala karena telah berijtihad. Akan tetapi, kesalahan yang dilakukannya tidak boleh kita ikuti, dan dia tidak boleh dijatuhkan kehormatan dan kedudukannya dari hati kaum muslimin” [Lihat kitab I’lam Al-Muwaqqi’in III/295]</p>
<p>Ibnu Rajab Al-Hambali (wafat 795H) berkata, “Allah Ta’ala enggan memberikan kemaksuman untuk kitab selain kitabNya. Orang yang adil adalah orang yang memaafkan kesalahan orang lain yang sedikit karena banyak kebenaran yang ada padanya” [Lihat kitab Al-Qawa’id hal.3]</p>
<p>[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">HUKUM MEREMEHAKAN SYARI&#8217;AT ALLAH DAN KEENGGANAN UNTUK MENERAPKANNYA</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Banyak di antara kaum muslimin yang meremeh-remehkan dalam hal berhukum kepada selain syari&#8217;at Allah; sebagian berkeyakinan bahwa sikap meremeh-remehkan tersebut tidak berpengaruh terhadap komitmen keislamannya. Sebagian yang lain malah menganggap boleh-boleh saja berhukum kepada selain syari&#8217;at Allah dan tidak peduli dengan implikasinya. Bagaimana pendapat yang haq dalam masalah ini?</p>
<p>Jawaban.<br />
Masalah ini harus dirinci, yaitu barangsiapa yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah sementara dia mengetahui bahwa wajib baginya berhukum kepada apa yang diturunkan Allah dan dengan perbuatannya itu, dia telah melanggar syari&#8217;at akan tetapi dia menganggap boleh hal itu dan memandangnya tidak apa-apa melakukannya dan juga boleh saja hukumnya berhukum kepada selain syari&#8217;at Allah ; maka orang seperti ini hukumnya adalah kafir dengan kekufuran Akbar menurut seluruh ulama, seperti berhukum kepada undang-undang buatan manusia, baik oleh kaum Nashrani, Yahudi ataupun orang-orang selain mereka yang mengklaim bahwasanya boleh berhukum dengannya, bahwa ia adalah lebih utama ketimbang hukum Allah, bahwa ia sejajar dengan hukum Allah atau mengklaim bahwa manusia diberi pilihan; bila menginginkan, dia boleh berhukum kepada al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah dan bila dia menginginkan, boleh berhukum kepada undang-undang buatan manusia tersebut. Jadi, barangsiapa berkeyakinan demikian, maka dia telah berbuat kekufuran menurut ijma’ para ulama sebagaimana yang telah dikemukakan tadi.</p>
<p>Adapun orang yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah karena dorongan hawa nafsu atau keuntungan sesaat sementara dia mengetahui bahwa dengan perbuatan itu telah berbuat maksiat kepada Allah dan RasulNya, bahwa dia telah melakukan kemungkaran yang besar dan yang wajib atasnya adalah berhukum kepada syari&#8217;at Allah; maka dia tidak berbuat kekufuran yang besar tersebut akan tetapi dia telah melakukan suatu kemungkaran dan maksiat yang besar serta kekufuran kecil sebagaimana pendapat Ibn Abbas, Mujahid dan ulama selain keduanya. Dia telah melakukan kekufuran di bawah kekufuran (Kufr duna Kufr) dan kezhaliman di bawah kezhaliman dan kefasikan di bawah kefasikan, bukan kekufuran akbar. Inilah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman dalam beberapa ayat berikut:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah. &#8221; [Al-Ma’idah : 49]</p>
<p>&#8220;Artinya : Barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-oang yang kafir.&#8221; [Al-Ma’idah : 44]</p>
<p>&#8220;Artinya : Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim. &#8221; [Al-Ma’idah : 45]</p>
<p>&#8220;Artinya : Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.&#8221; [Al-Ma’idah : 47]</p>
<p>&#8220;Artinya : Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.&#8221; [An-Nisa :65]</p>
<p>&#8220;Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi oang-orang yang yakin?&#8221; [Al-Ma’idah : 50]</p>
<p>Jadi, hukum Allah lah yang merupakan hukum paling baik, yang wajib diikuti dan dengannya tercipta keshalihan umat dan kebahagiaannya di dunia dan akhirat serta keshalihan alam semesta ini akan tetapi kebanyakan makhluk lalai dari realitas ini.</p>
<p>Kepada Allah lah kita tempat memohon pertolongan, tiada daya dan kekuatan kecuali kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.</p>
<p>[Majmu' Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah, Juz.V, h.355-356, dari fatwa Syaikh Ibn Baz]</p>
<p>[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">AL-FIRQOTUN NAJIYAH ADALAH AHLUS SUNNAH WAL-JAMA&#8217;AH</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan</p>
<p>Pada masa kepemimpinan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kaum muslimin itu adalah umat yang satu sebagaimana di firmankan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku (Allah) adalah Rab kalian, maka beribadahlah kepada-Ku&#8221;. [Al-Anbiyaa : 92].</p>
<p>Maka kemudian sudah beberapa kali kaum Yahudi dan munafiqun berusaha memecah belah kaum muslimin pada zaman Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, namun mereka belum pernah berhasil. Telah berkata kaum munafiq.</p>
<p>&#8220;Artinya : Janganlah kamu berinfaq kepada orang-orang yang berada di sisi Rasulullah, supaya mereka bubar&#8221;.</p>
<p>Yang kemudian dibantah langsung oleh Allah (pada lanjutan ayat yang sama) :</p>
<p>&#8220;Padahal milik Allah-lah perbandaharaan langit dan bumi, akan tetapi orang-orang munafiq itu tidak memahami&#8221;. [Al-Munafiqun : 7].</p>
<p>Demikian pula, kaum Yahudi-pun berusaha memecah belah dan memurtadkan mereka dari Ad-Din mereka.</p>
<p>&#8220;Artinya : Segolongan (lain) dari Ahli Kitab telah berkata (kepada sesamanya) : (pura-pura) berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (para sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhirnya, mudah-mudahan (dengan cara demikian) mereka (kaum muslimin) kembali kepada kekafiran&#8221;. [Ali Imran : 72].</p>
<p>Walaupun demikian, makar yang seperti itu tidak pernah berhasil karena Allah menelanjangi dan menghinakan (usaha) mereka.</p>
<p>Kemudian mereka berusaha untuk kedua kalinya mereka berusaha kembali memecah belah kesatuan kaum muslimin (Muhajirin dan Anshar) dengan mengibas-ngibas kaum Anshar tentang permusuhan diantara mereka sebelum datangnya Islam dan perang sya&#8217;ir diantara mereka. Allah membongkar makar tersebut dalam firman-Nya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti segolongan orang-orang yang diberi Al-Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman&#8221;.[Ali Imran : 100].</p>
<p>Sampai pada firman Allah.</p>
<p>&#8220;Artinya : Pada hari yang diwaktu itu ada wajah-wajah berseri-seri dan muram &#8230;..&#8221; [Ali-Imran : 106]</p>
<p>Maka kemudian Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendatangi kaum Anshar : menasehati dan mengingatkan mereka ni&#8217;mat Islam dan bersatunya merekapun melalui Islam, sehingga pada akhirnya mereka saling bersalaman dan berpelukan kembali setelah hampir terjadi perpecahan. [1]. Dengan demikian gagallah pula makar Yahudi dan tetaplah kaum muslimin berada dalam persatuan. Allah memang memerintahkan mereka untuk bersatu di atas Al-Haq dan melarang perselisihan dan perpecahan sebagaimana firman-Nya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang berpecah belah dan beselisih sesudah datangnya keterangan yang jelas &#8230;&#8230;&#8221;.[Ali-Imran : 105].</p>
<p>Dan firman-Nya pula.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah &#8230;.&#8221;.[Ali-Imran : 103].</p>
<p>Dan sesungguhnya Allah telah mensyariatkan persatuan kepada mereka dalam melaksanakan berbagai macam ibadah : seperti shalat, dalam shiyam, dalam menunaikan haji dan dalam mencari ilmu. Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-pun telah memerintahkan kaum muslimin ini agar bersatu dan melarang mereka dari perpecahan dan perselisihan. Bahkan beliau telah memberitahukan suatu berita yang berisi anjuran untuk bersatu dan larangan untuk berselisih, yakni berita tentang akan terjadinya perpecahan pada umat ini sebagaimana hal tersebut telah terjadi pada umat-umat sebelumnya ; sabdanya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesunguhnya barangsiapa yang masih hidup diantara kalian dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnah-Ku dan sunnah Khulafaa&#8217;rasiddin yang mendapat petunjuk setelah Aku&#8221;.[2].</p>
<p>Dan sabdanya pula.</p>
<p>&#8220;Artinya : Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan ; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah ..? ; beliau menjawab : yaitu barang-siapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabatku jalani hari ini&#8221;. [3].</p>
<p>Sesungguhnya telah nyata apa-apa yang telah diberitakan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka berpecahlah umat ini pada akhir generasi sahabat walaupun perpecahan tersebut tidak berdampak besar pada kondisi umat semasa generasi yang dipuji oleh Rasulullah dalam sabdanya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi yang datang sesudahnya, kemudian yang datang sesudahnya&#8221;.[4]</p>
<p>Perawi hadits ini berkata : &#8220;saya tidak tahu apakah Rasulullah menyebut setelah generasinya dua atau tiga kali&#8221;.</p>
<p>Yang demikian tersebut bisa terjadi karena masih banyaknya ulama dari kalangan muhadditsin, mufassirin dan fuqaha. Mereka termasuk sebagai ulama tabi&#8217;in dan pengikut para tabi&#8217;in serta para imam yang empat dan murid-murid mereka. Juga disebabkan masih kuatnya daulah-dualah Islamiyah pada abad-abad tersebut, sehingga firqah-firqah menyimpang yang mulai ada pada waktu itu mengalami pukulan yang melumpuhkan baik dari segi hujjah maupun kekuatannya.</p>
<p>Setelah berlalunya abad-abad yang dipuji ini bercampurlah kaum muslimin dengan pemeluk beberapa agama-agama yang bertentangan. Diterjemahkannya kitab ilmu ajaran-ajaran kuffar dan para raja Islam-pun mengambil beberapa kaki tangan pemeluk ajaran kafir untuk dijadikan menteri dan penasihat kerajaan, maka semakin dahsyatlah perselisihan di kalangan umat dan bercampurlah berbagai ragam golongan dan ajaran. Begitupun madzhab-madzhab yang batilpun ikut bergabung dalam rangka merusak persatuan umat. Hal itu terus berlangsung hingga zaman kita sekarang dan sampai masa yang dikehendaki Allah. Walaupun demikian kita tetap bersyukur kepada Allah karena Al-Firqatun Najiyah Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah masih tetap berada dalam keadaan berpegang teguh dengan ajaran Islam yang benar berjalan diatasnya, dan menyeru kepadanya ; bahkan akan tetap berada dalam keadaan demikian sebagaimana diberitakan dalam hadits Rasulullah tentang keabadiannya, keberlangsungannya dan ketegarannya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah demi langgenggnya Din ini dan tegaknya hujjah atas para penentangnya.</p>
<p>Sesungguhnya kelompok kecil yang diberkahi ini berada di atas apa-apa yang pernah ada semasa sahabat Radhiyallahu &#8216;anhum bersama Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam baik dalam perkataan perbuatan maupun keyakinannya seperti yang disabdakan oleh beliau.</p>
<p>&#8220;Artinya : Mereka yaitu barangsiapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabatku jalani hari ini&#8221; [5]</p>
<p>Sesungguhnya mereka itu adalah sisa-sisa yang baik dari orang-orang yang tentang mereka Allah telah berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya : Maka mengapakah tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan (shalih) yang melarang dari berbuat kerusakan di muka bumi kecuali sebagian kecil diantara orang-orang yang telah kami selamatkan diantara mereka, dan orang-orang yang dzolim hanya mementingkan kemewahan yang ada pada mereka ; dan mereka adalah orang-orang yang berdosa&#8221;. [Huud : 116].</p>
<p>[Disalin dari buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah oelh Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, terbitan Dar Al-Gasem PO Box 6373 Riyadh Saudi Arabia, penerjemah Abu Aasia]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/397 dan Asbabun Nuzul Al-Wahidy hal. 149-150<br />
[2] Dikeluarkan oleh Abu Dawud 5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini hasan shahih ; juga oleh Imam Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43<br />
[3] Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi 5/2641 dan Al-Hakim di dalam Mustadraknya I/128-129, dan Imam Al-Ajury di dalam Asy-Syari&#8217;ah hal.16 dan Imam Ibnu Nashr Al-Mawarzy di dalam As-Sunnah hal 22-23 cetakan Yayasan Kutubus Tsaqofiyyah 1408, dan Imam Al-Lalikaai dalam Syar Ushul I&#8217;tiqaad Ahlus Sunnah Wal-Jama&#8217;ah I nomor 145-147<br />
[4] Dikeluarkan oleh Bukhari 3/3650, 3651 dan Muslim 6/juz 16 hal 86-87 Syarah An-Nawawy<br />
[5] Dikeluarkan oleh Abu Dawud 5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini hasan shahih ; juga oleh Imam Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0.19in;margin-bottom:0.19in;"><font face="Arial Unicode MS, sans-serif">BERDALIL SELALU MENGIKUTI APA-APA YANG DATANG DARI KITAB ALLAH DAN SUNNAH RASULULLAH</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan</p>
<p>Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah adalah bahwa dalam berdalil selalu mengikuti apa-apa yang datang dari Kitab Allah dan atau Sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam baik secara lahir maupun bathin dan mengikuti apa-apa yang dijalankan oleh para sahabat dari kaum Muhajirin maupun Anshar pada umumnya dan khususnya mengikuti Al-Khulafaur-rasyidin sebagaimana wasiat Rasulullah dalam sabdanya.</p>
<p>&#8220;Artinya : Berepegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah khulafaur-rasyid-iin yang mendapat petunjuk&#8221;. [Telah terdahulu takhrijnya]</p>
<p>Dan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah tidak mendahulukan perkataan siapapun terhadap firman Allah dan sabda Rasulullah. Oleh karena itu mereka dinamakan Ahlul Kitab Was Sunnah. Setelah mengambil dasar Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, mereka mengambil apa-apa yang telah disepakati ulama umat ini. Inilah yang disebut dasar yang pertama ; yakni Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Segala hal yang diperselisihkan manusia selalu dikembalikan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah telah berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya : Maka jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan hari akhir, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya&#8221;. [An-Nisaa : 59]</p>
<p>Ahlus Sunnah tidak meyakini adanya kema&#8217;shuman seseorang selain Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan mereka tidak berta&#8217;ashub pada suatu pendapat sampai pendapat tersebut bersesuaian dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Mereka meyakini bahwa mujtahid itu bisa salah dan benar dalam ijtihadnya. Mereka tidak boleh berijtihad sembarangan kecuali siapa yang telah memenuhi persyaratan tertentu menurut ahlul &#8216;ilmi.</p>
<p>Perbedaan-perbedaan diantara mereka dalam masalah ijtihad tidak boleh mengharuskan adanya permusuhan dan saling memutuskan hubungan diantara mereka, sebagaimana dilakukan orang-orang yang ta&#8217;ashub dan ahlul bid&#8217;ah. Sungguh mereka tetap metolerir perbedaan yang layak (wajar), bahkan mereka tetap saling mencintai dan berwali satu sama lain ; sebagian mereka tetap shalat di belakang sebagian yang lain betapapun adanya perbedaan masalah far&#8217;i (cabang) diantara mereka. Sedang ahlul bid&#8217;ah saling memusuhi, mengkafirkan dan menghukumi sesat kepada setiap orang yang menyimpang dari golongan mereka.</p>
<p>[Disalin dari buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah oleh Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan Dar Al-Gasem PO. Box 6373 Riyadh, penerjemah Abu Aasia.]</font></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuhanin.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuhanin.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuhanin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuhanin.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuhanin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuhanin.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuhanin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuhanin.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuhanin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuhanin.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuhanin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuhanin.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuhanin.wordpress.com&blog=1500046&post=23&subd=abuhanin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhanin.wordpress.com/2008/01/03/fatawa-ahlus-sunnah-wal-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/64d165f9d7e76988dcc87126be7bd95e?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuhanin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>